Saat Harapan Tumbuh di Balik Jeruji: Rutan Tanjung Pura Ajarkan Warga Binaan Bangkit dan Mandiri

Tanjung Pura — Di balik tembok Rumah Tahanan Negara (Rutan) Tanjung Pura, kehidupan tidak hanya berjalan dalam hitungan hari menuju kebebasan. Di sana, harapan perlahan disemai, keterampilan diasah, dan masa depan mulai ditata kembali.

Pada Rabu (11/03/2026), Rutan Tanjung Pura kembali menegaskan komitmennya dalam membina warga binaan melalui kegiatan produktif. Sebanyak 25 ekor kambing ditambahkan ke kawasan lahan Ketapang, sebuah area yang kini berkembang menjadi pusat kegiatan peternakan dan pertanian bagi para warga binaan.

Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Rutan Tanjung Pura, Fransisco Pandia, sebagai langkah nyata memaksimalkan pemanfaatan lahan milik negara sekaligus menghadirkan pembinaan yang memberikan harapan baru bagi mereka yang sedang menjalani masa pidana.

Lahan Ketapang kini bukan sekadar hamparan tanah kosong. Di tempat itu, warga binaan belajar merawat ternak, mengelola kolam ikan, hingga mengolah kebun pertanian dan hortikultura. Aktivitas tersebut menjadi ruang belajar sekaligus harapan, agar ketika mereka kembali ke masyarakat, ada keterampilan yang bisa menjadi pegangan hidup.

Dalam peninjauan langsung ke kawasan tersebut, Karutan Fransisco Pandia bersama jajaran pejabat melihat perkembangan berbagai sektor produktif yang telah dikelola oleh warga binaan, mulai dari kolam ikan yang terus berkembang, hingga kebun yang mulai menghijau dengan berbagai tanaman.

Menurut Fransisco Pandia, pengembangan lahan Ketapang bukan hanya sekadar program kegiatan, melainkan bagian dari upaya menghadirkan pembinaan yang lebih manusiawi dan bermakna.

“Kami ingin tempat ini bukan hanya menjadi tempat menjalani hukuman, tetapi juga tempat belajar memperbaiki diri. Dengan adanya peternakan kambing, kolam ikan, dan kebun, warga binaan memiliki kesempatan untuk belajar keterampilan yang kelak bisa mereka gunakan saat kembali ke masyarakat,” ungkapnya.

Program ini menjadi wujud nyata transformasi pembinaan pemasyarakatan yang tidak hanya berfokus pada pengawasan, tetapi juga pada pemberdayaan dan kemandirian. Dari tanah Ketapang itu, harapan baru terus tumbuh—membuktikan bahwa bahkan dari balik jeruji, masa depan masih bisa diperjuangkan. (*)

Editor:indra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *