Di Balik Seragam, Ada Hati yang Mengabdi — Jum’at Bersih Brimob Sumut Sentuh Nurani di Rumah Ibadah

Medan — Pagi itu, ketika matahari perlahan menyibak langit Kota Medan, langkah-langkah pengabdian mulai terdengar pelan di halaman Masjid Hidayatullah. Bukan langkah biasa—melainkan langkah penuh keikhlasan dari para personel Batalyon A Pelopor Satuan Brimob Polda Sumatera Utara, yang datang bukan untuk menegakkan hukum, tetapi untuk merawat harapan.

Dalam balutan seragam yang kerap identik dengan ketegasan, mereka justru menunjukkan sisi lain: kelembutan hati dan kepedulian yang tulus. Melalui kegiatan Jum’at Bersih yang digelar pada Jumat, 3 April 2026, di Jalan Pertiwi No.33, Bantan, Kecamatan Medan Tembung, Brimob hadir sebagai bagian dari masyarakat—bukan sekadar penjaga, tetapi juga pelayan.

Dipimpin oleh Danton 3 Kompi 4, IPDA Ricky Ananda Sihotang, S.Psi., M.Psi., M.B.A., para personel bergerak tanpa ragu. Sapu demi sapu diayunkan, lantai demi lantai dipel, debu-debu yang menempel perlahan dihapus, seolah mereka juga sedang membersihkan sekat-sekat jarak antara aparat dan rakyat.

Tak ada suara komando yang keras. Yang terdengar justru adalah bisikan ketulusan—dari tangan-tangan yang bekerja, dari keringat yang jatuh, dari hati yang ingin memberi arti. Setiap sudut masjid disentuh dengan rasa hormat, karena mereka tahu, di tempat itulah doa-doa dipanjatkan, harapan digantungkan, dan air mata seringkali disembunyikan.

Kegiatan ini bukan sekadar bersih-bersih. Ia adalah bahasa tanpa kata—tentang kepedulian, tentang kemanusiaan, tentang hadirnya negara dalam bentuk yang paling sederhana namun paling terasa.

Dalam arahannya, IPDA Ricky Ananda Sihotang mengingatkan bahwa menjaga kebersihan rumah ibadah bukan hanya tugas petugas, tetapi tanggung jawab bersama. Namun lebih dari itu, ia menanamkan sesuatu yang jauh lebih dalam: bahwa pengabdian sejati lahir dari hati yang peduli.

“Di sinilah kita belajar, bahwa tugas kita bukan hanya menjaga keamanan, tapi juga menjaga rasa—rasa kebersamaan, rasa empati, dan rasa memiliki terhadap masyarakat,” ungkapnya dengan penuh makna.

Di akhir kegiatan, masjid itu tampak lebih bersih. Namun yang lebih penting, ada sesuatu yang tak kasat mata ikut dibersihkan—jarak, prasangka, dan batas antara aparat dan masyarakat.

Dan mungkin, dari lantai yang kini berkilau itu, akan lahir doa-doa yang lebih khusyuk… doa yang diam-diam juga dipanjatkan untuk mereka—para pengabdi yang bekerja dalam sunyi, namun memberi arti

Indra/humas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *