Di Balik Kobaran Api Gunung Sitoli, Ada Air Mata, Harapan, dan Pengorbanan: Brimob Polda Sumut Bersama Warga Selamatkan Sisa Kehidupan

Gunungsitoli ~ Di tengah gelapnya kepulan asap dan panasnya kobaran api yang melahap deretan pertokoan di Jalan Sirao dan Jalan Yos Sudarso, Kota Gunung Sitoli, Kamis (09/04/2026), tersimpan kisah pilu sekaligus harapan yang tak mudah dilupakan.

Jeritan warga yang panik, tangis yang pecah melihat harta benda dilalap si jago merah, menjadi saksi betapa dahsyatnya musibah yang datang begitu cepat. Namun di saat itulah, harapan hadir bersama langkah-langkah sigap para personel Satuan Brimob Polda Sumatera Utara.

Sebanyak 30 personel Brimob dari Batalyon C di bawah pimpinan IPTU Ari Budi Dermawan, tanpa ragu menerobos panas dan asap tebal. Bukan sekadar menjalankan tugas, mereka hadir dengan hati—menguatkan, membantu, dan menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan.

Bersama tim gabungan dari Pemadam Kebakaran, Polres setempat, dan masyarakat, mereka berjibaku melawan kobaran api yang terus mengancam meluas. Di tengah situasi yang mencekam, personel Brimob terlihat mengangkat barang-barang warga, menyelamatkan sisa-sisa kehidupan yang tak ternilai, bahkan menenangkan warga yang diliputi ketakutan.

Setiap langkah mereka adalah bentuk kepedulian. Setiap tetes keringat yang jatuh adalah bukti pengabdian.

Perlahan namun pasti, api mulai dapat dijinakkan. Tidak ada korban jiwa—sebuah kabar yang menjadi secercah harapan di tengah duka yang menyelimuti. Meski sekitar 10 unit toko hangus terbakar, setidaknya nyawa dan harapan masih tersisa.

Usai api padam, mereka tak pergi. Personel Brimob tetap berjaga, memastikan keamanan lokasi, mencegah potensi penjarahan, dan mendampingi proses olah TKP. Dalam diam, mereka terus hadir—menjadi pelindung di saat masyarakat masih terpukul.

Seorang warga, dengan mata berkaca-kaca, tak mampu menyembunyikan rasa harunya.

“Kami kehilangan banyak, tapi kami tidak sendiri. Terima kasih untuk bapak-bapak semua yang sudah membantu kami. Kalian datang bukan hanya memadamkan api, tapi juga menguatkan hati kami,” ucapnya lirih.

Di balik peristiwa ini, tersirat makna yang begitu dalam: bahwa di saat musibah datang, kebersamaan dan kepedulian adalah kekuatan terbesar. Sinergi antara Brimob, instansi terkait, dan masyarakat bukan hanya memadamkan api, tetapi juga menyalakan kembali harapan.

Karena sejatinya, di tengah bencana, yang paling dibutuhkan bukan hanya bantuan—tetapi kehadiran, kepedulian, dan kemanusiaan

Indra/humas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *