Pemalang — Di saat seseorang berjuang antara hidup dan mati, pintu rumah sakit seharusnya terbuka, bukan justru tertutup. Namun dugaan penolakan pasien di RSUD M. Ashari Pemalang menjadi luka baru bagi wajah pelayanan kesehatan negeri ini.
Jeritan rakyat kecil yang berharap pertolongan justru diduga berakhir dengan penolakan. Peristiwa ini bukan sekadar kelalaian—ini menyentuh sisi paling mendasar: kemanusiaan.
Pakar hukum internasional, Sutan Nasomal, angkat suara dengan nada keras dan penuh keprihatinan. Ia menilai, jika benar terjadi, maka ini adalah tamparan keras bagi sistem pelayanan publik di Indonesia.
“Rumah sakit itu tempat menyelamatkan nyawa, bukan tempat menolak manusia yang sedang membutuhkan pertolongan. Ini tidak bisa dibiarkan!” tegasnya.
Ia mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk turun tangan langsung. Menurutnya, negara tidak boleh kalah oleh sistem yang dingin dan tak berperasaan. Instruksi tegas harus diberikan kepada seluruh kepala daerah agar memastikan setiap RSUD melayani tanpa diskriminasi—tanpa melihat status, jabatan, ataupun latar belakang pasien.
Kasus yang menimpa Sisono, suami dari seorang guru PNS di Pemalang, menjadi simbol kegelisahan masyarakat. Ketika rakyat datang dengan harapan, mereka justru dihadapkan pada ketidakpastian—bahkan penolakan.
“Ini bukan soal administrasi, ini soal nyawa. Ketika satu pasien ditolak, kepercayaan rakyat pada negara ikut runtuh,” lanjut Sutan.
Ia juga menuntut pengawasan ketat terhadap manajemen rumah sakit. Tidak boleh ada lagi ruang bagi kelalaian, apalagi sikap abai terhadap penderitaan masyarakat.
Lebih jauh, Sutan mengusulkan agar pemerintah tidak hanya menghukum yang lalai, tetapi juga memberi penghargaan bagi rumah sakit yang benar-benar hadir dengan hati—yang melayani dengan empati, bukan sekadar prosedur.
“Negara harus hadir. Jangan sampai rakyat merasa sendirian saat berjuang mempertahankan hidupnya,” tutupnya.
Peristiwa ini menjadi pengingat pahit: pelayanan kesehatan bukan sekadar sistem, tetapi cerminan nurani sebuah bangsa. Jika rumah sakit mulai menutup pintu bagi yang membutuhkan, lalu ke mana lagi rakyat harus berharap?
Editor:indra

