Di Ujung Kelulusan, Brimob Sumut Titip Pesan Menyentuh: Jangan Biarkan Euforia Berubah Jadi Penyesalan

Medan – Di balik senyum lega para siswa yang menuntaskan ujian, terselip satu kekhawatiran yang tak bisa diabaikan: euforia yang berlebihan, yang kerap berujung petaka. Menyadari hal itu, Satuan Brimob Polda Sumatera Utara hadir, bukan sekadar memberi imbauan, tetapi menitipkan pesan penuh makna kepada generasi muda.

Melalui personel Batalyon A, kegiatan pembinaan dan edukasi digelar di SMA Kemala Bhayangkari 1 Medan, Rabu (15/4/2026), tepat di hari terakhir ujian assessment sekolah. Momen yang seharusnya menjadi penutup indah masa putih abu-abu itu dijadikan ruang refleksi: bagaimana merayakan kelulusan tanpa melukai diri sendiri maupun orang lain.

Dipimpin Danton III Kompi 4 Batalyon A, Ipda Ricky Ananda Sihotang, S.Psi., M.Psi., M.B.A., para siswa kelas XII diajak menahan diri di tengah gelombang bahagia yang kerap sulit dikendalikan.

Dalam suasana apel pagi yang khidmat, pesan-pesan itu disampaikan—bukan dengan nada menggurui, melainkan dengan kepedulian yang terasa dekat. Ia mengingatkan bahwa konvoi di jalan raya, yang sering dianggap sebagai simbol kebebasan, justru bisa berubah menjadi ancaman yang merenggut keselamatan.

Lebih dari itu, bayang-bayang tawuran juga menjadi peringatan serius. Sebab satu emosi yang tak terkendali bisa merusak masa depan yang selama ini diperjuangkan dengan susah payah.

“Momen kelulusan memang layak dirayakan. Tapi jangan sampai kebahagiaan sesaat berubah menjadi penyesalan seumur hidup,” ucapnya, lirih namun penuh makna.

Kata-kata itu seolah mengetuk hati para siswa—bahwa di luar sana ada orang tua yang menanti dengan harap, ada masa depan yang sedang diperjuangkan, dan ada mimpi yang tak boleh hancur hanya karena euforia sesaat.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan koordinasi bersama pihak sekolah dan pengawas eksternal, memastikan seluruh rangkaian ujian berjalan lancar. Di penghujung acara, pelepasan siswa kelas XII berlangsung dalam suasana haru—menjadi penanda berakhirnya satu babak kehidupan, sekaligus awal perjalanan baru.

Melalui pendekatan yang humanis, Brimob Sumut tak hanya hadir sebagai aparat, tetapi sebagai pengingat—bahwa kedewasaan bukan diukur dari bagaimana merayakan kebahagiaan, melainkan bagaimana menjaga diri di tengah kebahagiaan itu sendiri.

Dan di hari itu, para siswa tak hanya pulang membawa rasa lega, tetapi juga sebuah pesan sederhana yang akan mereka ingat: rayakan dengan bijak, agar masa depan tetap utuh.

Indra humas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *