Mereka Rela Menahan Lelah Demi Satu Hal: Umat Bisa Beribadah dengan Tenang

Medan ~ Menjelang Perayaan Kenaikan Yesus Kristus, suasana Kota Medan perlahan dipenuhi doa-doa yang hendak dipanjatkan dengan penuh harapan dan ketulusan. Di balik tenangnya rumah-rumah ibadah yang akan dipenuhi jemaat, ada para personel Brimob yang memilih berdiri dalam sunyi demi memastikan semuanya tetap aman.

Tim Jibom KBR Detasemen Gegana Satuan Brimob Polda Sumut menyusuri setiap sudut gereja dengan langkah hati-hati dan penuh tanggung jawab. Mereka memeriksa mimbar tempat firman Tuhan akan disampaikan, kursi tempat jemaat bersimpuh dalam doa, hingga sudut-sudut kecil yang mungkin tak pernah diperhatikan siapa pun.

Tak ada tepuk tangan untuk pekerjaan mereka. Tak ada sorotan berlebihan. Namun di balik seragam dan perlengkapan yang mereka kenakan, tersimpan ketulusan untuk menjaga kedamaian ribuan hati yang ingin beribadah dengan tenang.

Dipimpin Iptu Syahriful Rahmi, S.H., bersama tujuh personel Tim Jibom KBR, sterilisasi dilakukan di sejumlah gereja di Medan. Dari Gereja HKBP Sudirman, Gereja Katedral, Gereja Katolik Paroki Kristus Raja, Gereja GMI Methodis, Gereja Katolik HM Joni, hingga GKPS Teladan, semuanya diperiksa dengan penuh ketelitian.

Mereka menyisir sound system, ruang pastor, toilet, pot bunga, tempat sampah, hingga saluran parit di sekitar gereja. Sebab bagi mereka, rasa aman umat adalah hal yang tak boleh diserahkan pada kemungkinan.

Di saat banyak keluarga mempersiapkan pakaian terbaik untuk beribadah, para personel justru mempersiapkan diri menghadapi risiko demi memastikan tak ada ancaman yang mengusik kekhusyukan malam doa.

Ada kehangatan yang sulit dijelaskan ketika melihat aparat berdiri menjaga rumah ibadah, bukan hanya sebagai tugas negara, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai kemanusiaan dan toleransi.

“Kami ingin memastikan seluruh rangkaian ibadah dapat berlangsung aman, nyaman, dan kondusif,” ujar Iptu Syahriful Rahmi.

Kalimat itu sederhana. Namun di baliknya, ada pengabdian yang sering kali tak terlihat. Ada lelah yang disembunyikan. Ada waktu bersama keluarga yang dikorbankan demi menjaga ketenangan banyak orang.

Karena sejatinya, kedamaian sebuah ibadah bukan hanya lahir dari doa-doa yang dipanjatkan di altar, tetapi juga dari mereka yang berjaga dalam diam agar setiap umat dapat menundukkan kepala tanpa rasa takut.

Indra/humas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *