JelajahPerkara.com/Manado, — Polemik terkait ucapan Dansatrol Bitung yang dinilai menyudutkan suku Jawa akhirnya menemukan titik terang melalui dialog dan klarifikasi langsung bersama Ketua PWO IN Sulawesi Utara, Reza Lumanu, serta sejumlah tokoh dan perwakilan masyarakat Jawa. Pertemuan yang berlangsung dalam suasana terbuka dan penuh kekeluargaan pada Minggu (24/5) menjadi momentum penyelesaian bijaksana atas kegaduhan yang sempat berkembang di tengah masyarakat maupun dunia jurnalistik. Senin 25 Mei 2026.
Dalam dialog tersebut, Dansatrol Bitung menegaskan bahwa beredarnya berbagai counter narasi dari sejumlah media bukan merupakan instruksi maupun pernyataan langsung darinya. Ia mengklaim bahwa pemberitaan dan opini yang berkembang merupakan sikap pribadi dari masing-masing pemegang media dan bukan bagian dari arahannya secara langsung.
Selain itu, Dansatrol Bitung juga mengakui adanya kelalaian dalam penyampaian ucapan yang kemudian menimbulkan penafsiran negatif dan dianggap menyinggung keluarga besar suku Jawa. Di hadapan perwakilan masyarakat Jawa yang diwakili oleh Ketua Kerukunan Jawa, ia secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh keluarga besar suku Jawa atas ucapan yang telah menimbulkan kesalahpahaman tersebut.
Ketua PWO IN Sulut, Reza Lumanu, dalam kesempatan tersebut menekankan pentingnya profesionalisme dan kehati-hatian dalam menyampaikan pernyataan kepada publik, terutama bagi figur yang memiliki posisi dan pengaruh signifikan di tengah masyarakat.
“Lebih profesional dan berhati-hati. Nyamuk mati dengan tepuk tangan,” tegas Reza Lumanu dalam pidatonya.
Menurutnya, kebebasan pers dan sudut pandang jurnalistik merupakan bagian dari kontrol sosial yang sah dalam negara demokrasi. Ia menegaskan bahwa karya jurnalistik lahir dari hak wartawan untuk menyampaikan fakta, kritik, dan koreksi demi menjaga marwah institusi agar terus berkembang menjadi lebih baik.
“Jurnalis memiliki hak dan sudut pandang dalam menuangkannya ke dalam karya jurnalistik atau pemberitaan. Kritik dan koreksi adalah bentuk cinta kepada institusi agar menjadi lebih baik, bukan dengan penjilatan dan puji-pujian,” ujarnya.
Pertemuan tersebut ditutup dengan komitmen bersama dari semua pihak untuk menjaga persatuan bangsa, menghormati keberagaman etnis dan budaya, serta memperkuat hubungan baik antara masyarakat, media massa, dan institusi terkait. “Dari dialog lahir pemahaman, dari klarifikasi tumbuh persatuan,” demikian pesan bersama yang disampaikan pada akhir pertemuan.

