MEDAN — Di tengah zaman yang semakin bising oleh derasnya arus informasi, ketika kebohongan terkadang berlari lebih cepat daripada kebenaran, dan ketika suara hati sering tenggelam oleh riuh kepentingan, sebuah cahaya kecil kembali dinyalakan dari Belawan.
Bukan cahaya yang memancar dari gemerlap lampu panggung.
Melainkan cahaya yang lahir dari hati orang-orang yang memilih mengabdikan hidupnya kepada sebuah profesi yang mulia—menjadi wartawan.
Di ruangan itu, tak hanya pengurus yang dilantik.
Yang lahir sesungguhnya adalah sebuah sumpah.
Sumpah yang tak tertulis di atas kertas, tetapi terpatri di dalam nurani.
Sumpah untuk tetap jujur ketika kebohongan menawarkan kenyamanan.
Sumpah untuk tetap berdiri tegak ketika tekanan datang dari berbagai arah.
Dan sumpah untuk menjadikan pena sebagai saksi perjuangan, bukan alat kepentingan.
Dengan penuh khidmat, Ketua Forum Wartawan Kejaksaan (Forwaka) Sumatera Utara, Irfandi, melantik jajaran pengurus Forwaka Belawan.
Prosesi itu berlangsung sederhana.
Namun kesederhanaannya justru menyimpan makna yang begitu besar.
Karena tidak semua amanah lahir dalam kemewahan.
Sebagian justru lahir dalam keheningan, lalu tumbuh menjadi pengabdian sepanjang kehidupan.
Di balik setiap tepuk tangan yang menggema, ada doa-doa yang tak terdengar.
Doa agar setiap wartawan yang berhimpun di bawah Forwaka Belawan tetap memelihara keberanian ketika kebenaran terasa mahal.
Doa agar mereka tidak pernah menjual nurani demi kepentingan sesaat.
Dan doa agar setiap berita yang lahir dari tangan mereka menjadi cahaya yang menerangi masyarakat, bukan bara yang membakar persaudaraan.
Ketua Panitia, Muhammad Maskur, membuka acara dengan penuh syukur.
Ucapan terima kasih yang ia sampaikan bukan sekadar kalimat seremonial, melainkan ungkapan harapan agar langkah kecil hari itu menjadi awal perjalanan panjang organisasi yang kokoh, profesional, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Kemudian suasana berubah semakin hening ketika Ketua Forwaka Sumut, Irfandi, menyampaikan pesan yang begitu menyentuh.
Baginya, wartawan bukan sekadar profesi.
Ia adalah panggilan jiwa.
Sebuah jalan pengabdian yang sering kali sunyi, melelahkan, bahkan penuh risiko.
Namun justru di jalan itulah kehormatan seorang insan pers diuji.
“Jaga kekompakan. Jaga integritas. Jangan pernah meninggalkan idealisme jurnalistik. Ketika kepercayaan masyarakat hilang, saat itulah kehormatan pers ikut dipertaruhkan,” tegasnya.
Kalimat itu seolah tidak hanya terdengar di telinga.
Ia mengetuk hati setiap wartawan yang hadir.
Mengingatkan bahwa kecepatan bukanlah segalanya.
Karena berita tercepat akan kehilangan arti jika mengorbankan kebenaran.
Dan tulisan paling indah akan menjadi sia-sia apabila lahir tanpa kejujuran.
Amanah itu kemudian diterima Ketua Forwaka Belawan yang baru dilantik, Budi Yanto, SH, dengan mata yang penuh kesungguhan.
Baginya, jabatan bukanlah mahkota.
Jabatan adalah beban yang harus dipikul dengan keikhlasan.
Bukan untuk dihormati, tetapi untuk dipertanggungjawabkan.
“Kepercayaan ini akan kami jaga sebaik-baiknya. Kami ingin Forwaka Belawan menjadi rumah yang mempersatukan wartawan, melahirkan karya jurnalistik yang berkualitas, serta menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat,” tuturnya.
Komitmen itu bukan hanya sebatas kata.
Ia ingin menjadikan Forwaka Belawan sebagai rumah tempat wartawan belajar, bertumbuh, saling menguatkan, dan bersama-sama mengabdi kepada masyarakat melalui pendidikan jurnalistik, diskusi, hingga kegiatan sosial.
Pelantikan tersebut dihadiri perwakilan Kejaksaan Negeri Belawan Fathur Roji, SH, unsur Polres Pelabuhan Belawan, Kodalar-I, Sathantai Marinir, Ketua HNSI Sumut Zulfachri Siagian, Ketua HNSI Kota Medan Abdul Rachman, Camat Medan Belawan, Ketua SMSI Medan Irwan Manalu, Ketua PWPM Muhammad Edison Ginting, Ketua Koordinator DPRD Medan M. Said Ilham Asegaf, Ketua Forum Pemred Lilik Riadi, pengurus KJMB, Awan Mera, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, serta wartawan dari berbagai media.
Di tengah khidmatnya acara, penampilan Tari Persembahan dan Tari Sunda dari siswa-siswi SMP Negeri 5 Medan menghadirkan kehangatan.
Tarian itu seolah menjadi bahasa yang tak memerlukan kata.
Bahasa tentang persatuan.
Tentang kebersamaan.
Dan tentang harapan bahwa perbedaan selalu dapat dipersatukan oleh niat baik.
Ketua Forum Pemred, Lilik Riadi, berharap Forwaka Belawan melahirkan wartawan yang bukan hanya pandai menulis, tetapi juga berani menjaga hati nurani.
Sementara mewakili Kejaksaan Negeri Belawan, Fathur Roji, SH, berharap Forwaka Belawan menjadi mitra strategis dalam menghadirkan informasi yang objektif, mencerdaskan masyarakat, serta memperkuat kepercayaan publik terhadap penegakan hukum.
Pada akhirnya…
Pelantikan ini bukan sekadar pergantian kepengurusan.
Ia adalah lahirnya sebuah janji.
Janji untuk tetap setia kepada kebenaran ketika dunia menawarkan jalan yang lebih mudah.
Janji untuk tetap memegang etika ketika godaan datang silih berganti.
Janji untuk menjaga marwah pers, meski harus berjalan dalam sunyi.
Karena pena yang jujur mungkin tidak selalu disukai.
Namun sejarah selalu memberi tempat terhormat bagi mereka yang memilih berdiri di sisi kebenaran.
Dan selama masih ada wartawan yang menulis dengan hati, menjaga nurani, serta mengabdi tanpa pamrih, harapan bangsa ini tidak akan pernah benar-benar padam.
Sebab sejatinya, pers bukan hanya tentang berita yang terbit setiap hari. Pers adalah suara hati rakyat. Dan selama suara itu tetap dijaga dengan kejujuran, Indonesia akan selalu memiliki harapan.
Indra

