Jakarta — Di tangan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, lembaga pemasyarakatan tak lagi sekadar ruang hukuman. Kini, lapas dan rutan didorong menjadi sentra ketahanan pangan sekaligus motor UMKM berbasis pembinaan warga binaan.
Melalui Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Panen Raya Serentak Januari 2026 mencatat produksi 123.557 kilogram pangan nasional — gabungan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan. Angka ini menegaskan satu hal: dari balik jeruji, kontribusi nyata untuk negeri mulai bergerak.
Menteri Agus Andrianto menyebut program ini bukan proyek simbolik. Saat meninjau Lapas Terbuka Nusakambangan, ia menegaskan empat langkah kunci: menertibkan lahan negara yang tidur, menyelaraskan program dengan visi kemandirian pangan nasional, memperkuat rantai pasok lokal, serta membekali warga binaan dengan keterampilan plus tabungan masa depan.
Aset yang sebelumnya terbengkalai kini diolah produktif. Hasil panen wajib diserap vendor lapas minimal lima persen, sisanya diarahkan ke pasar lokal hingga program Makan Bergizi Gratis. Warga binaan tak hanya bekerja — mereka dibayar, dilatih, dan disiapkan kembali ke masyarakat dengan modal nyata.
“Ini soal mengubah mindset pemasyarakatan: dari beban negara menjadi kekuatan ekonomi,” tegas Agus.
Lewat skema ini, lapas diposisikan sebagai ruang rehabilitasi sekaligus pusat produksi. Negara mendapatkan pangan, daerah bergerak ekonominya, dan warga binaan memperoleh harapan baru.
Transformasi ini menandai babak baru sistem pemasyarakatan Indonesia — lebih produktif, lebih manusiawi, dan langsung menyentuh kebutuhan rakyat.
Indra/frn

