JAKARTA – Sosok Agus Flores kembali menjadi perbincangan setelah kisahnya bertapa selama satu bulan di kawasan Candi Borobudur, Magelang. Sepulang dari pertapaannya, penampilan Agus berubah drastis. Jenggotnya yang semula hitam kini tampak memutih seluruhnya, membuat banyak orang semakin penasaran dengan perjalanan spiritual yang dijalaninya.
Keunikan sosok Agus Flores memang kerap memancing perhatian. Banyak pihak bahkan mengaitkan dirinya dengan ramalan masa lalu tentang seorang pemuda gagah dari trah Mataram Kuno yang kelak kembali menginjakkan kaki di tanah leluhurnya di Magelang.
Lima tahun sebelumnya, Agus Flores dikenal sebagai sosok yang cukup disegani, terutama di kalangan para penambang di Magelang. Namun perjalanan spiritualnya di Borobudur seolah membuka babak baru dalam kehidupannya.
Hal yang juga menarik perhatian adalah bagaimana Agus Flores dapat memasuki kawasan Borobudur tanpa hambatan berarti. Ia bahkan didampingi oleh pengurus setempat dan tidak dikenakan biaya, sesuatu yang jarang terjadi mengingat kawasan tersebut dikenal memiliki prosedur yang cukup ketat.
Sebagian masyarakat setempat pun beranggapan kedatangan Agus seperti seorang anak yang pulang ke tanah leluhurnya. Mereka menyebut, tanah Magelang yang dahulu merupakan wilayah Kerajaan Mataram Kuno seolah menyambut kembali keturunan leluhur yang pernah berjaya di masa lampau.
Selama berada di Borobudur, Agus mengaku tidak melakukan ritual yang rumit.
Ia hanya berjalan mengelilingi candi, memperhatikan relief-relief yang terpahat di dinding, sambil mencoba menafsirkan kisah kehidupan dan sejarah yang tersimpan di dalamnya.
Salah satu momen yang juga menjadi perhatian adalah saat Agus berhasil menyentuh tangan Arca Kunto Bimo di salah satu bagian candi. Ia mengaku hanya sekali memasukkan tangannya dan langsung merasakan seolah tangannya bertemu dengan tangan patung tersebut.
Saat ditanya doa apa yang ia panjatkan hingga bisa melakukan hal tersebut, Agus hanya menjawab sambil tersenyum ringan.
“Ah, ada saja. Saya cuma bercanda dengan para leluhur di sini. Mungkin mereka sudah lama merindukan saya,” ujarnya dengan nada santai.
Selama berada di Borobudur, Agus juga terlihat tidak merasakan kelelahan meski harus naik turun tangga candi yang tinggi. Bagi sebagian orang, hal itu terasa melelahkan, namun bagi Agus, Borobudur seolah menjadi tempat yang begitu akrab baginya.
Cerita unik tentang Agus juga pernah terjadi saat dirinya berada di tanah suci Madinah dan Mekkah. Ia disebut beberapa kali berhasil mendekati Hajar Aswad, sesuatu yang tidak selalu mudah dilakukan oleh setiap jamaah.
Menariknya lagi, selama berada di Magelang, Agus mengaku hampir tidak pernah merasa lapar. Setiap kali ia membutuhkan sesuatu, masyarakat sekitar selalu dengan sukarela menyuguhkan makanan atau minuman.
Bagi warga sekitar, Agus dikenal sebagai sosok yang mudah bergaul. Ia dapat berteman dengan siapa saja, mulai dari masyarakat biasa hingga orang-orang yang pernah memiliki masa lalu kelam. Sikapnya yang penuh canda membuat banyak orang merasa nyaman berada di dekatnya.
Saat dikonfirmasi media pada Sabtu (7/3), Agus Flores hanya tersenyum ketika ditanya tentang semua cerita yang beredar.
“Saya hanya ingin bertapa di Borobudur,” ujarnya singkat.
Menurut Agus, leluhurnya pernah mengingatkan bahwa tanah Magelang merupakan bagian dari wilayah Kerajaan Mataram Kuno yang berdiri sekitar abad ke-8 hingga ke-10 Masehi.
Kerajaan besar tersebut didirikan oleh Raja Sanjaya dari Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu, kemudian berkembang pesat bersama Dinasti Syailendra yang menganut Buddha.
Ketika wartawan bertanya di mana sebenarnya istana Mataram Kuno berada, Agus menjawab santai.
“Di bawah kawasan Borobudur itu,” katanya sambil tersenyum.
Ia bahkan sempat berseloroh kepada para wartawan.
“Mau saya ceritakan sejarah Mataram Kuno? Tapi siapkan dulu kopi dan rokok saya,” ujarnya sambil tertawa.
Meski bercanda, Agus kemudian mulai menceritakan sejarah berdirinya Kerajaan Mataram Kuno yang menurutnya didirikan oleh Raja Sanjaya sekitar tahun 732 Masehi, sebagaimana tercatat dalam Prasasti Canggal di Magelang.
Agus juga menuturkan bahwa pada masa itu terdapat dua wangsa besar, yakni Wangsa Sanjaya dan Wangsa Syailendra. Kedua dinasti tersebut sempat mengalami perselisihan panjang sebelum akhirnya berdamai melalui pernikahan politik antara Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya dan Pramodhawardhani dari Wangsa Syailendra.
Menurut Agus, puncak kejayaan Mataram Kuno terjadi sekitar akhir abad ke-9 hingga awal abad ke-10 dengan sejumlah raja yang memimpin kerajaan tersebut hingga masa Raja Dharmawangsa.
Ia juga menegaskan bahwa pada masa itu belum dikenal pembagian wilayah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, atau Jawa Timur. Yang ada hanyalah batas-batas wilayah kerajaan.
Kerajaan Mataram Kuno akhirnya mengalami kemunduran setelah serangan dari Kerajaan Sriwijaya. Raja terakhirnya, Dharmawangsa, kemudian memiliki hubungan keluarga dengan Raja Airlangga yang kelak mendirikan Kerajaan Kahuripan.
Namun menurut Agus, kisah besar sejarah Mataram Kuno tidak berhenti di sana.
Masih ada kisah lain yang tak kalah menarik, yaitu cerita cinta antara putri Raja Dharmawangsa dan Raja Airlangga yang menjadi bagian dari perjalanan panjang sejarah Nusantara.
Kisah itulah yang, menurut Agus, akan menjadi episode berikutnya.
Editor:indra

