Gunungsitoli – Malam itu tampak biasa. Lampu-lampu kota tetap menyala, tawa terdengar samar dari sudut-sudut hiburan, dan pintu-pintu kos tertutup rapat seperti menyimpan rahasia. Namun di balik ketenangan itu, ada luka yang tak terlihat—ancaman narkoba yang perlahan merenggut masa depan.
Jumat malam (27/3/2026), langkah-langkah tegas namun penuh kepedulian hadir memecah sunyi. Personel Kompi 4 Batalyon C Satuan Brimob Polda Sumatera Utara bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Gunungsitoli turun langsung, menyusuri titik-titik yang selama ini hanya dibicarakan dalam bisik-bisik.
Bukan sekadar razia, ini adalah upaya menyelamatkan. Dengan pendekatan humanis, satu per satu warga diperiksa. Tatapan cemas, raut wajah penuh harap, hingga kegelisahan yang tak bisa disembunyikan—semuanya menjadi saksi bahwa malam itu bukan malam biasa.
Dan ketika hasil itu muncul… hening seketika terasa lebih berat.
Dari 29 orang yang diperiksa, tujuh di antaranya dinyatakan positif mengandung methamphetamine (sabu). Angka itu bukan hanya jumlah—ia adalah cerita tentang mereka yang tersesat, tentang mimpi yang hampir padam, tentang keluarga yang mungkin tak pernah tahu betapa dekatnya kehilangan itu.
Namun di balik kenyataan pahit tersebut, masih ada harapan yang tersisa.
Seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman dan tertib. Tidak ada amarah, tidak ada kekacauan—yang ada hanyalah kesadaran bahwa setiap langkah penindakan ini adalah bentuk kepedulian, bahwa setiap tangan yang diamankan adalah kesempatan untuk kembali pulang ke jalan yang benar.
Kehadiran Brimob dan BNN malam itu bukan sekadar penegakan hukum. Ia adalah pesan yang lebih dalam—bahwa negara tidak tinggal diam saat generasinya perlahan jatuh. Bahwa masih ada yang peduli, masih ada yang berjuang, bahkan di saat banyak orang terlelap.
Komandan Satuan Brimob Polda Sumut, Kombespol Rantau Isnur Eka, menegaskan komitmen tersebut sebagai langkah berkelanjutan dalam memutus rantai narkoba. Namun lebih dari itu, ini adalah tentang menjaga masa depan—tentang memastikan bahwa harapan anak bangsa tidak hilang dalam gelapnya malam.
Karena di setiap jiwa yang diselamatkan, ada kehidupan yang diberi kesempatan kedua.
Indra/humas

