Camat Medan Marelan Menyusuri Sungai Berderah dengan Perahu Nelayan, Menjawab Jeritan Warga dan Harapan Akan Sungai yang Kembali Bersih

MARELAN — Di bawah langit pagi yang masih menyisakan mendung, langkah nyata itu akhirnya datang. Camat Medan Marelan, Zulkifli S. Pulungan, S.STP., M.AP., tak tinggal diam ketika keluhan warga tentang tumpukan sampah di Sungai Berderah terus mengalir.

Bersama Lurah Terjun A. Zukri, S.Sos., M.Si., para nelayan, serta tokoh masyarakat Kelurahan Terjun, ia memilih cara yang tak biasa—menyusuri langsung aliran sungai dengan perahu nelayan, Senin (6/4/2026). Di atas perahu sederhana itu, mereka menatap kenyataan pahit: sungai yang seharusnya menjadi sumber kehidupan, kini dipenuhi sampah yang menggunung.

Perjalanan menyusuri Sungai Berderah bukan sekadar peninjauan biasa. Setiap meter yang dilalui menjadi saksi bisu betapa persoalan sampah telah lama membelenggu. Bau menyengat, air yang menghitam, serta tumpukan limbah yang tersangkut di sepanjang aliran sungai seakan menjadi jeritan alam yang tak lagi mampu bersuara.

“Menanggapi laporan warga, kami turun langsung menggunakan perahu nelayan. Ini cara paling efektif untuk memetakan titik-titik penumpukan sampah agar penanganan bisa lebih cepat,” ungkap Zulkifli dengan nada tegas, namun sarat kepedulian.

Di balik langkah itu, tersimpan harapan besar—mengembalikan fungsi Sungai Berderah sebagai jalur air yang bersih dan aman. Upaya normalisasi terus dilakukan untuk mengatasi sedimentasi yang tinggi, sekaligus mencegah ancaman banjir yang kerap menghantui warga setiap musim hujan.

Namun perjuangan ini tidaklah mudah. Sampah yang menumpuk bukan hanya berasal dari kebiasaan sebagian warga yang masih membuang limbah ke sungai, bahkan di waktu malam, tetapi juga kiriman dari hulu yang terus datang tanpa henti. Sebuah persoalan yang seolah tak pernah benar-benar selesai.

Karena itu, langkah penyisiran sungai ini bukan hanya tentang membersihkan, tetapi juga mengetuk hati. Edukasi kepada masyarakat terus digencarkan, mengajak warga untuk bersama-sama menjaga kebersihan bantaran sungai—karena sungai yang bersih bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan milik bersama yang harus dijaga.

Di atas riak air Sungai Berderah yang keruh, tersimpan harapan yang perlahan mulai dibangun kembali. Bahwa suatu hari nanti, sungai ini akan kembali jernih, mengalirkan kehidupan, bukan lagi membawa beban pencemaran.

Dan dari perahu nelayan sederhana itu, sebuah pesan kuat disampaikan: perubahan selalu dimulai dari langkah kecil, dari keberanian untuk turun langsung, mendengar, dan bertindak.

Indra/humas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *