Medan, 12 April 2026 — Kepercayaan yang dibangun dengan susah payah, runtuh hanya dalam sekejap. Dugaan praktik bisnis catering di Medan kini tak sekadar menjadi perbincangan, tetapi telah berubah menjadi sorotan tajam yang menyisakan luka dan tanda tanya besar.
Di balik nama besar Wali Kota Medan, Bobby Nasution, muncul dugaan adanya pihak yang berani mengklaim kedekatan bahkan mandat, demi melancarkan bisnis pribadi. Sosok berinisial (AS), sekitar 50 tahun, disebut-sebut memainkan peran kunci—membangun kepercayaan, lalu diduga memanfaatkannya.
Awalnya, kerja sama terjalin dengan niat baik. Namun seiring waktu, benih kecurigaan tumbuh. Seorang pengusaha catering mengaku tak hanya kecewa, tetapi merasa ditinggalkan dalam skema yang perlahan berubah arah. Jaringan yang dibangun bersama, diduga justru dijadikan pijakan untuk membuka usaha baru secara sepihak.
“Ini bukan sekadar bisnis yang gagal. Ini soal kepercayaan yang terasa dikhianati,” ungkap sumber dengan nada getir.
Nama Baret Bhineka Catering ikut terseret dalam pusaran polemik. Di kawasan Jalan Damai, sebuah pesanan menjadi titik awal terbongkarnya kejanggalan. Dugaan penggunaan nama orang lain dalam dokumen transaksi pun mencuat—kwitansi yang mencatut nama ketua relawan, sementara transaksi diduga dilakukan oleh pihak berbeda. Jika benar, ini bukan lagi soal administrasi, melainkan indikasi permainan yang lebih dalam.
Luka semakin terasa saat peristiwa di acara duka terungkap. Di Jalan Bajak V dan wilayah Namorambe, pesanan makanan yang seharusnya menjadi bentuk empati, justru berubah menjadi kekecewaan. Dari 500 porsi yang dijanjikan, hanya 251 yang tiba tepat waktu. Sisanya datang terlambat—ketika suasana duka telah kehilangan maknanya.
Lebih memprihatinkan, nama “Bobby Berkah” disebut digunakan untuk meraih kepercayaan. Nama yang seharusnya membawa harapan, kini justru diselimuti tanda tanya: apakah ini berkah, atau sekadar kedok?
Upaya konfirmasi telah dilakukan oleh awak media kepada pihak-pihak terkait melalui WhatsApp. Namun hingga berita ini diturunkan, tak satu pun klarifikasi muncul ke permukaan. Diam—yang justru semakin menguatkan kecurigaan.
Kasus ini telah viral di media sosial, memantik kemarahan publik. Bukan hanya karena potensi kerugian materi, tetapi karena nilai kepercayaan yang terasa dipermainkan. Jika benar ada pencatutan nama tokoh atau relawan demi keuntungan pribadi, maka ini bukan sekadar
Indr

