BELAWAN – Siang itu, angin laut berhembus pelan di halaman SMA Negeri 20 Medan, seolah ikut merasakan getirnya perpisahan. Di tempat sederhana itulah, ratusan kisah tentang mimpi, perjuangan, dan persahabatan akhirnya ditutup dengan satu kata yang berat: selamat tinggal.
Pelepasan siswa-siswi kelas XII Angkatan 2026 bukan sekadar acara tahunan. Ia adalah pertemuan terakhir dalam balutan kebersamaan yang selama tiga tahun tumbuh tanpa terasa—di ruang kelas, di sudut-sudut sekolah, hingga dalam tawa yang kini berubah menjadi air mata.
Tawa masih terdengar, musik masih mengalun, dan kreativitas tetap ditampilkan lewat video, tarian, hingga momen kebersamaan. Namun di balik itu semua, ada hati yang diam-diam bergetar. Ada mata yang mencoba tegar, meski tak kuasa menahan basah.
Ketika mobil pemadam kebakaran menyiramkan air ke arah para siswa, suasana seketika pecah—bukan hanya oleh sorak kegembiraan, tetapi juga oleh luapan emosi yang selama ini tertahan. Air yang mengguyur tubuh mereka seolah menyatu dengan air mata yang jatuh tanpa diminta. Hari itu, semua larut—antara bahagia dan kehilangan.
Di tengah suasana yang menggetarkan, Kepala Sekolah, Frans Herbert Christope, berdiri menyampaikan pesan terakhirnya. Suaranya tegas, namun tak mampu sepenuhnya menyembunyikan rasa haru.
“Ijazah hanyalah kunci… tapi usaha dan karakterlah yang akan membuka pintu kehidupan. Jangan pernah berhenti melangkah,” ucapnya, menguatkan.
Kata-kata itu bukan sekadar nasihat, melainkan doa yang dilepas bersama langkah para siswa menuju masa depan yang belum pasti, namun penuh harapan.
Kebanggaan pun menyelimuti suasana, ketika disebutkan bahwa banyak di antara mereka telah diterima di Perguruan Tinggi Negeri melalui jalur SNBP 2026. Namun lebih dari sekadar angka dan prestasi, hari itu adalah tentang kenangan yang tak akan pernah tergantikan.
Seorang perwakilan siswa, dengan suara yang sempat terhenti oleh haru, mencoba menyampaikan isi hati seluruh angkatan.
“Kami mungkin akan berjalan ke arah yang berbeda… tapi hati kami akan selalu kembali ke tempat ini,” ucapnya lirih.
Kalimat itu sederhana, namun cukup untuk membuat banyak yang menunduk, menyembunyikan air mata yang tak lagi bisa dibendung.
Doa bersama menjadi penutup yang syahdu. Tangan-tangan terangkat, bibir bergetar memanjatkan harapan, seolah enggan mengakhiri semuanya. Sementara kamera-kamera mengabadikan detik-detik terakhir—senyum yang dipaksakan, pelukan yang terasa lebih erat dari biasanya.
Hari itu, tidak ada yang benar-benar siap untuk berpisah.
Di halaman sekolah yang menghadap laut, mereka akhirnya menyadari—bahwa yang pergi bukan hanya masa sekolah, tapi juga sebagian dari diri mereka yang akan selalu tinggal di sana.
Dan ketika langkah mulai menjauh, satu hal yang pasti:
mereka tidak hanya membawa ijazah,
tetapi juga kenangan… yang akan hidup selamanya.
Awal
Editor:indra

