Air Keringat di Tanah Dewata, Kisah Juang Brimob Sumut yang Menggetarkan Hati di Kemala Run 2026

Denpasar, Bali — Di bawah mentari pagi yang perlahan menyibak langit Pulau Dewata, jejak-jejak langkah itu bukan sekadar derap kaki di atas lintasan. Ia adalah cerita tentang pengabdian, tentang tekad yang tak pernah runtuh, dan tentang jiwa-jiwa tangguh yang terus berlari, bahkan saat lelah mencoba menghentikan.

Personel Satuan Brimob Polda Sumatera Utara hadir di ajang Kemala Run 2026 bukan hanya untuk berlomba. Mereka datang membawa nama kesatuan, membawa harapan, dan membawa semangat juang yang telah ditempa dari kerasnya tugas di lapangan. Di setiap tarikan napas dan keringat yang jatuh, terselip doa dan kebanggaan yang tak terucap.

Dipimpin oleh Kasubbagrenmin Sat Brimob Polda Sumut, KOMPOL I Wayan Danu Wijaya, S.H., M.H., kehadiran mereka bukan sekadar formalitas. Ia adalah energi, adalah dorongan batin yang membuat para personel terus melangkah meski kaki mulai terasa berat. Dalam diam, mereka saling menguatkan—karena mereka tahu, mereka tidak berjuang sendiri.

Di kategori 21 kilometer (21K) TNI/POLRI, Brigadir Abdi Jekry Pastmen Sihombing, S.H., berlari melawan batas dirinya sendiri. Satu jam empat puluh lima menit bukan hanya angka—itu adalah bukti dari perjuangan panjang, dari latihan tanpa henti, dan dari tekad yang tak mau menyerah. Setiap kilometer yang ia taklukkan adalah kisah tentang keberanian menantang lelah.

Sementara di kategori 10 kilometer (10K), dua sosok dari Den Gegana menunjukkan bahwa kekuatan bukan hanya soal fisik, tetapi juga hati yang teguh. Bripda Adelika Perbina Br Sembiring dengan waktu 53 menit 16 detik, dan Bripda Erliandre K. Purba dengan 38 menit 10 detik, membuktikan bahwa disiplin dan kerja keras akan selalu menemukan jalannya menuju hasil yang membanggakan.

Namun, ada satu kisah yang begitu menggugah. Di kategori 5 kilometer (5K), Bharada Markus Beres Banurea berlari seolah membawa seluruh harapan di pundaknya. Dengan catatan waktu 16 menit 17 detik, ia menembus kerasnya persaingan dan finis di posisi ke-6. Di balik capaian itu, ada pengorbanan, ada latihan dalam sunyi, dan ada semangat yang tak pernah padam. Ia tidak hanya berlari untuk menang—ia berlari untuk membuktikan bahwa batas itu bisa dilampaui.

Kegiatan ini mungkin hanya berlangsung dua hari. Namun, makna yang tertinggal jauh lebih dalam. Ia tentang persaudaraan, tentang kebersamaan yang terjalin tanpa sekat, dan tentang semangat hidup sehat yang terus dijaga di tengah tuntutan tugas yang berat.

Dari Bali, mereka tidak hanya membawa pulang catatan waktu. Mereka membawa pulang kebanggaan. Mereka membawa pulang cerita—tentang air keringat yang jatuh dengan penuh makna, tentang langkah yang tak pernah berhenti, dan tentang hati yang selalu setia pada pengabdian.

Karena bagi mereka, menjadi Brimob bukan hanya tentang tugas…

tetapi tentang bagaimana terus berdiri, terus berlari, dan terus berjuang—dalam keadaan apa pun.

Indra/humas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *