Medan Marelan – Sore itu, Sabtu (20/06/2026), Baja Coffee di Jalan Pasar I Rel, Medan Marelan, bukan lagi sekadar tempat menikmati secangkir kopi. Di antara kursi-kursi sederhana dan aroma kopi yang menghangatkan suasana, berkumpul puluhan pekerja dengan satu kesamaan: mereka adalah orang-orang yang setiap hari berjuang demi keluarga yang mereka cintai.
Mereka datang bukan membawa jabatan.
Bukan membawa kemewahan.
Mereka datang membawa tangan yang kasar karena kerja keras.
Membawa wajah yang lelah karena tuntutan hidup.
Dan membawa harapan agar masa depan anak-anak mereka tidak ikut tenggelam dalam ketidakpastian.
Di balik seragam kerja yang mungkin telah lusuh oleh waktu, tersimpan kisah-kisah pengorbanan yang jarang diketahui banyak orang.
Ada yang berangkat sebelum matahari terbit dan pulang ketika anak-anaknya sudah tertidur.
Ada yang rela menahan sakit demi tetap bekerja agar dapur tetap mengepul.
Ada pula yang setiap hari bekerja di bawah ancaman risiko kecelakaan, namun tetap bertahan karena keluarga menunggu nafkah di rumah.
Sore itu, seluruh kisah perjuangan itu seolah berkumpul dalam satu ruangan.
Melalui kegiatan Sosialisasi BPJS Ketenagakerjaan yang digelar Federasi Serikat Pekerja (FSP) Kerah Biru–SPSI, para pekerja tidak hanya mendapatkan pengetahuan tentang perlindungan sosial. Mereka mendapatkan sesuatu yang lebih berharga: keyakinan bahwa mereka tidak sendirian dalam perjuangan hidup ini.
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Umum FSP Kerah Biru–SPSI Royanto Purba, Ketua FSP Kerah Biru Sumatera Utara Suhiluddin Lubis, Sekretaris Husein Siregar, Bendahara Petrus Sitompul, Ketua PAC FSP Kerah Biru–SPSI Kota Medan Dedek DS, Sekretaris Danu Praja, Bendahara Riki Nasution, Asisten Deputi Jasa Konstruksi dan Pekerja Migran Indonesia BPJS Ketenagakerjaan Iqbal, serta Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Medan Utara Husaini.
Namun suasana berubah ketika Ketua Umum FSP Kerah Biru–SPSI, Royanto Purba, berdiri di hadapan para pekerja.
Ruangan yang sebelumnya ramai perlahan menjadi hening.
Tatapan para buruh tertuju kepadanya.
Mereka seakan menunggu suara yang mampu mewakili apa yang selama ini tersimpan di dalam hati.
Dengan suara yang bergetar oleh kepedulian, Royanto mulai berbicara tentang para pekerja yang selama ini menjadi tulang punggung bangsa.
Tentang mereka yang membangun gedung-gedung megah tetapi sering tinggal di rumah yang sederhana.
Tentang mereka yang menggerakkan industri, namun terkadang masih harus memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan keluarga di akhir bulan.
“Tidak ada pabrik yang hidup tanpa buruh. Tidak ada pelabuhan yang bergerak tanpa buruh. Tidak ada bangunan yang berdiri tanpa buruh. Negeri ini tumbuh dari keringat para pekerja.”
Kalimat itu menggema dalam keheningan.
Bukan sekadar pidato.
Tetapi pengakuan atas pengorbanan jutaan pekerja yang selama ini bekerja tanpa banyak sorotan.
Royanto kemudian mengajak seluruh peserta merenungkan sebuah kenyataan yang sering terlupakan.
Bahwa ketika seorang pekerja mengalami kecelakaan kerja, yang terluka bukan hanya dirinya.
Di rumah, ada anak yang menunggu ayahnya pulang.
Ada istri yang menggantungkan harapan pada suaminya.
Ada orang tua yang masih berharap pada penghasilan anaknya.
Dengan nada yang semakin dalam, Royanto berkata:
“Ketika seorang buruh jatuh karena kecelakaan kerja, yang ikut jatuh bukan hanya tubuhnya. Yang ikut jatuh adalah mimpi anak-anaknya. Yang ikut menangis adalah keluarganya. Karena itu perlindungan sosial bukan sekadar program. Perlindungan sosial adalah penjaga harapan keluarga pekerja.”
Sejenak suasana terasa sunyi.
Beberapa peserta tampak menundukkan kepala.
Sebagian lainnya terlihat menyimak dengan mata yang berkaca-kaca.
Karena setiap kalimat yang diucapkan Royanto terasa begitu dekat dengan kehidupan mereka.
Di balik kerasnya dunia kerja, para buruh sesungguhnya hanyalah manusia biasa yang ingin pulang dengan selamat dan melihat keluarganya tersenyum.
Royanto kemudian menegaskan bahwa perjuangan buruh bukan hanya tentang upah atau fasilitas.
Tetapi tentang menjaga martabat manusia.
Tentang memastikan setiap pekerja mendapatkan perlindungan ketika musibah datang tanpa peringatan.
“Kami tidak ingin ada lagi keluarga pekerja yang kehilangan masa depan karena tidak memiliki perlindungan. Kami tidak ingin ada anak yang harus menghentikan sekolahnya karena ayahnya mengalami musibah kerja. Itulah sebabnya perjuangan ini tidak boleh berhenti.”
Tepuk tangan panjang pecah.
Namun kali ini bukan sekadar tepuk tangan.
Itu adalah luapan perasaan.
Luapan harapan.
Dan luapan keyakinan bahwa suara mereka masih diperjuangkan.
Semangat itu kemudian diperkuat oleh Ketua PAC FSP Kerah Biru–SPSI Kota Medan, Dedek DS.
Dengan penuh ketulusan, Dedek mengingatkan bahwa para pekerja tidak boleh merasa sendiri menghadapi kerasnya kehidupan.
“Kita mungkin datang dari tempat kerja yang berbeda-beda. Tetapi kita memiliki mimpi yang sama, yaitu melihat keluarga kita hidup lebih baik. Karena itu jangan pernah berjalan sendiri. Persatuan adalah kekuatan terbesar yang kita miliki.”
Dedek juga mengajak seluruh pekerja untuk terus menjaga solidaritas dan saling menguatkan.
“Ketika satu pekerja mengalami kesulitan, kita harus hadir. Ketika satu keluarga pekerja tertimpa musibah, kita harus berdiri bersama. Karena sejatinya kekuatan buruh lahir dari kepedulian terhadap sesama.”
Menjelang acara berakhir, suasana haru masih terasa memenuhi ruangan.
Sosialisasi itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam.
Namun pesan yang ditinggalkan akan hidup jauh lebih lama.
Bahwa setiap pekerja berhak mendapatkan perlindungan.
Bahwa setiap keluarga pekerja berhak memiliki rasa aman.
Dan bahwa setiap tetes keringat yang jatuh dari tubuh seorang buruh sesungguhnya adalah pengorbanan yang menjaga kehidupan bangsa ini tetap berjalan.
Sore itu, Baja Coffee menjadi saksi bahwa di balik tangan-tangan yang kasar karena bekerja, tersimpan hati yang penuh cinta untuk keluarga.
Dan di balik seragam yang sederhana, berdiri para pejuang kehidupan yang setiap hari mengorbankan tenaga demi masa depan orang-orang yang mereka sayangi.
Karena sesungguhnya, ketika seorang buruh berangkat bekerja, yang ia bawa bukan hanya tenaganya.
Ia membawa harapan keluarganya.
Ia membawa mimpi anak-anaknya.
Ia membawa masa depan yang ingin ia perjuangkan.
Dan selama harapan itu masih ada, perjuangan kaum buruh tidak akan pernah padam.
(Indra)

