Lampung – Percakapan yang berkembang di Grup WhatsApp Mitra Polda Lampung pada Jumat (3/7/2026) menjadi cerminan bahwa hubungan kemitraan antara institusi kepolisian dan insan pers membutuhkan ruang komunikasi yang semakin terbuka, transparan dan setara.
Berbagai tanggapan disampaikan para jurnalis menyusul pemberian piagam penghargaan kepada sejumlah insan pers dalam rangka Hari Bhayangkara ke-80. Mayoritas bukan mempertanyakan keberadaan penghargaan itu sendiri, melainkan berharap adanya kejelasan mengenai indikator dan mekanisme penilaian sehingga tidak menimbulkan beragam persepsi di kalangan mitra media.
Sejumlah jurnalis yang selama ini aktif meliput kegiatan Polda Lampung mengaku mempertanyakan dasar penilaian tersebut. Mereka berharap setiap bentuk apresiasi diberikan berdasarkan rekam jejak, konsistensi pemberitaan, profesionalisme serta kontribusi nyata dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.
Di sisi lain, isu mengenai penyebutan media lokal dan media nasional juga menjadi perhatian. Banyak jurnalis berpendapat bahwa dalam menjalankan fungsi pers, tidak semestinya muncul sekat yang berpotensi menimbulkan kesan adanya perlakuan berbeda. Seluruh media memiliki kedudukan yang sama sebagai pilar demokrasi dan mitra strategis dalam menyampaikan informasi publik.
Dalam diskusi itu, muncul pula usulan agar dilakukan audiensi atau dialog langsung dengan Kapolda Lampung. Gagasan tersebut bukan dimaksudkan sebagai bentuk konfrontasi, melainkan sebagai upaya membangun komunikasi yang lebih baik sehingga setiap aspirasi dapat disampaikan secara terbuka dan solusi dapat dirumuskan bersama.
Menariknya, di tengah beragam kritik yang berkembang, salah satu koordinator grup, Mak Kus, memberikan respons yang menyejukkan. Ia menyampaikan terima kasih atas kritik dan masukan yang diberikan serta menyatakan akan menjadikannya sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan komunikasi dengan Humas Polda Lampung ke depan.
Sikap tersebut mendapat apresiasi dari anggota grup karena menunjukkan bahwa kritik yang disampaikan bukan untuk memperkeruh keadaan, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap kemitraan yang telah terbangun selama ini.
Perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam sebuah kemitraan. Justru melalui dialog yang terbuka, rasa saling percaya dapat semakin diperkuat. Aspirasi para jurnalis hendaknya dipandang sebagai masukan yang konstruktif untuk menyempurnakan pola komunikasi, mekanisme pemberian apresiasi serta pelayanan informasi publik.
Momentum Hari Bhayangkara ke-80 menjadi pengingat bahwa Polri dan insan pers memiliki tujuan yang sama, yakni menghadirkan informasi yang akurat, menjaga kondusivitas dan melayani kepentingan masyarakat. Oleh karena itu, semangat kebersamaan, keterbukaan dan saling menghargai diharapkan terus menjadi fondasi kemitraan yang semakin profesional di masa mendatang.

