“Lorong Harapan yang Lama Terkubur: Saat Penggerebekan Membuka Luka dan Menghidupkan Doa Warga”

BELAWAN — Di sudut Lorong Harapan, tempat yang namanya seolah bertolak belakang dengan kenyataan yang selama ini terjadi, langkah aparat akhirnya memecah sunyi yang terlalu lama dibiarkan. Penggerebekan kampung narkoba oleh BNNP Sumatera Utara, Senin (27/4), bukan hanya tentang penindakan—tetapi tentang harapan yang perlahan kembali dihidupkan.

Selama ini, warga hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Anak-anak tumbuh di lingkungan yang akrab dengan bisikan transaksi haram, para orang tua menahan cemas setiap kali malam datang. Lorong kecil itu seakan kehilangan makna “harapan” yang sesungguhnya.

Ketika aparat datang dan bertindak tegas, ada rasa lega yang sulit diungkapkan. Seolah beban panjang yang selama ini dipikul diam-diam, akhirnya mulai terangkat. Praktisi hukum Helmax Alex Sebastian Tampubolon pun mengapresiasi langkah tersebut, menyebutnya sebagai jawaban atas jeritan warga yang selama ini tak selalu terdengar.

Namun di balik kelegaan itu, terselip luka yang belum sepenuhnya sembuh. Warga tahu, yang selama ini tertangkap sering kali hanya mereka yang berada di lapisan bawah. Sementara bayang-bayang para bandar besar masih menghantui, seakan terus mengintai dari balik gelapnya pesisir.

Inilah yang membuat harapan itu belum sepenuhnya utuh. Warga Belawan tidak hanya butuh penggerebekan—mereka merindukan keadilan yang benar-benar tuntas, hingga ke akar-akarnya.

Kini, di Lorong Harapan, secercah cahaya mulai terlihat. Dan di balik itu, ada doa-doa sederhana dari warga: agar suatu hari nanti, nama “Harapan” bukan lagi sekadar alamat—melainkan kenyataan yang benar-benar mereka rasakan.

Tim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *