Serdang Bedagai — Senja itu terasa lebih berat dari biasanya. Di sebuah rumah sederhana di Dusun VII, Desa Dolok Manampang, duka menggantung di setiap sudut, menyelimuti keluarga yang tengah merelakan kepergian putra terbaiknya untuk selamanya.
Komandan Satuan Brimob Polda Sumatera Utara, Kombes Pol. Rantau Isnur Eka, hadir bukan sekadar sebagai pimpinan, tetapi sebagai saudara yang datang membawa empati. Langkahnya memasuki rumah duka pada Selasa malam (28/4/2026) sekitar pukul 18.35 WIB seolah menegaskan bahwa kehilangan ini bukan hanya milik keluarga, melainkan duka seluruh bangsa.
Di hadapan keluarga almarhum Kopda Anumerta Rico Pramudia, suasana tak kuasa menahan haru. Nama itu kini bukan sekadar panggilan, melainkan simbol pengorbanan. Seorang prajurit yang gugur jauh dari tanah kelahirannya, dalam sunyi misi perdamaian dunia di Lebanon pada 24 April 2026.
Ia pergi bukan dalam pelukan keluarga, tetapi dalam tugas mulia menjaga harapan dunia. Dan di situlah, luka itu terasa begitu dalam—jarak memisahkan, namun cinta dan bangga tak pernah berkurang.
Dansat Brimob Polda Sumut, didampingi Kapolres Serdang Bedagai AKBP Jhon Hery Rakutta Sitepu, menyampaikan belasungkawa dengan penuh ketulusan. Kata-kata yang terucap mungkin sederhana, namun sarat makna—sebuah pengakuan bahwa pengorbanan almarhum tidak akan pernah sia-sia.
Santunan yang diserahkan malam itu bukan sekadar bantuan, melainkan simbol bahwa negara tidak pernah menutup mata. Bahwa di balik air mata keluarga, ada tangan-tangan yang mencoba menguatkan, ada hati yang ikut merasakan kehilangan yang sama.
Isak tangis yang pecah di ruang itu menjadi saksi betapa besar cinta yang ditinggalkan, dan betapa berat kepergian yang harus diterima. Namun di tengah kesedihan, terselip kebanggaan—bahwa Rico adalah putra bangsa yang gugur dalam kehormatan.
Kehadiran jajaran Brimob Polda Sumut malam itu seakan menjadi pelukan hangat dari negara. Sebuah pesan sunyi namun kuat: bahwa para pejuang tidak pernah benar-benar pergi, dan keluarga yang ditinggalkan tidak akan pernah berjalan sendiri.
Sebab pada akhirnya, pengabdian seperti yang ditorehkan almarhum bukan hanya tercatat dalam sejarah, tetapi hidup dalam hati bangsa—sebagai cahaya yang tak akan pernah padam.
Indra/humas

