Medan, April 2026 — Di sebuah ruang yang mempertemukan dua bangsa, gagasan dan harapan berkelindan. Bukan sekadar forum akademik, Global Project-Based Learning (GPBL): Construction International Practices menjadi panggung di mana masa depan keselamatan kerja dipertaruhkan—dan diperjuangkan.
Di tengah semangat kolaborasi antara Universitas Sumatera Utara (USU) dan Universiti Sains Malaysia (USM), PT Pelindo Multi Terminal (SPMT) hadir bukan hanya sebagai narasumber, tetapi sebagai penjaga nilai: bahwa setiap nyawa yang bekerja di balik denyut industri, adalah tanggung jawab yang tak ternilai.
Bertepatan dengan peringatan Hari Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Internasional, pesan itu terasa semakin dalam. Direktur Sumber Daya Manusia Pelindo Multi Terminal, Edi Priyanto, berdiri di hadapan para mahasiswa lintas negara, membawa lebih dari sekadar materi—ia membawa realitas.
Tentang bagaimana di lapangan, keselamatan bukanlah teori yang indah di atas kertas, melainkan keputusan-keputusan kecil yang menentukan pulang atau tidaknya seseorang ke rumah.
Ia menegaskan, di tengah derasnya arus industri logistik dan konstruksi, keselamatan sering kali diuji oleh waktu, tekanan, dan target. Namun di situlah letak maknanya—bahwa keselamatan bukan penghambat, melainkan penopang utama keberlanjutan.
“Keselamatan kerja bukan hanya tentang alat pelindung atau prosedur. Ia adalah cara berpikir, cara bersikap, dan cara menghargai kehidupan. Ketika tekanan produksi datang, di situlah integritas keselamatan diuji—dan tidak boleh pernah kalah,” ungkap Edi, dengan nada yang menggugah.
Di balik deretan kursi peserta, mata-mata muda menyerap setiap kata. Salah satunya Yong Xin Jie, mahasiswa dari Universiti Sains Malaysia, yang merasakan bahwa apa yang ia dengar hari itu melampaui batas buku dan teori.
Baginya, ini adalah jendela—melihat bagaimana dunia industri sesungguhnya bekerja, dengan segala risiko dan tanggung jawabnya. Tentang bagaimana teknologi seperti smartwatch dan sistem pengawasan digital bukan lagi sekadar inovasi, melainkan penjaga senyap yang melindungi manusia.
Keterlibatan Pelindo Multi Terminal dalam forum ini bukan hanya bentuk kontribusi, tetapi juga jembatan—menghubungkan dunia akademik dengan kenyataan industri yang kompleks. Sebuah upaya nyata untuk memastikan bahwa generasi muda tidak hanya cerdas secara teori, tetapi juga tangguh menghadapi realitas.
Di akhir forum, yang tersisa bukan hanya catatan dan dokumentasi. Ada kesadaran yang tumbuh perlahan—bahwa di balik setiap proyek, setiap konstruksi, setiap kapal yang berlabuh, ada satu hal yang tak boleh tergantikan: keselamatan manusia.
Dan dari Medan hari itu, pesan itu berlayar lebih jauh—menembus batas negara, menuju masa depan industri yang lebih manusiawi.
Indra/humas

