Di Balik Barikade, Ada Tekad: Brimob Sumut Tempa Diri Hadapi Ancaman Anarkis Demi Rasa Aman Masyarakat

Tebing Tinggi – Pagi itu, matahari belum sepenuhnya meninggi, namun semangat para personel sudah lebih dulu membara di halaman Kesatriaan Paino SK, Mako Batalyon B Tebing Tinggi. Di tempat itulah, Satuan Brimob Polda Sumatera Utara kembali menempa diri—bukan sekadar latihan, tetapi sebuah ikhtiar menjaga harapan masyarakat akan rasa aman.

Dalam formasi rapi dan langkah yang serempak, para personel Batalyon B menjalani latihan penindakan anarkis varian 2, Kamis (16/04/2026). Di balik helm dan tameng yang mereka kenakan, tersimpan tanggung jawab besar—melindungi, mengayomi, dan berdiri paling depan saat situasi berubah tak terkendali.

Dipimpin oleh Wakil Komandan Kompi 4 Batalyon B, Iptu Horas Batubara, latihan ini diikuti oleh personel staf batalyon, Kompi 1, dan Kompi 4. Setiap aba-aba yang terdengar bukan hanya instruksi, melainkan panggilan tugas yang harus dijawab dengan kesiapan penuh.

Materi disampaikan oleh Wakil Komandan Kompi 1, Iptu Rudi Syahputra Siregar, S.Sos.I., yang menanamkan lebih dari sekadar teknik. Ia menegaskan pentingnya ketenangan di tengah tekanan, ketepatan dalam bertindak, dan solidaritas yang tak boleh goyah saat menghadapi situasi anarkis.

Di tengah latihan itu, keringat yang jatuh ke tanah menjadi saksi bisu—bahwa kesiapsiagaan tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari disiplin dan pengorbanan. Setiap gerakan dilatih berulang, setiap skenario dihadapi dengan kesungguhan, demi satu tujuan: agar ketika masyarakat membutuhkan, mereka sudah siap tanpa ragu.

Latihan berlangsung dengan lancar, namun maknanya jauh lebih dalam dari sekadar keberhasilan teknis. Ada tekad yang terus ditempa, ada tanggung jawab yang dipikul dengan kesadaran penuh. Bahwa di saat sebagian orang beristirahat, mereka justru bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.

Bagi Brimob Polda Sumut, kesiapsiagaan bukan hanya tentang kemampuan—tetapi tentang keberanian untuk selalu hadir di garis depan, menjaga ketenangan di tengah gejolak, dan memastikan bahwa rasa aman tetap hidup di tengah masyarakat.

Sebab pada akhirnya, di balik barikade dan perlengkapan taktis itu, ada hati yang bekerja dalam diam—demi satu hal sederhana yang sangat berarti: keamanan untuk semua.

Indra/humas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *