Marelan – Di sebuah rumah kontrakan sederhana di sudut Marelan, waktu seakan berjalan lebih lambat. Di atas kasur tipis yang mulai usang, Mohammad Arifin (49) hanya bisa terbaring lemah, menatap langit-langit rumah dengan tubuh yang kian mengurus, digerogoti penyakit TB paru yang tak kunjung terobati.
Di sampingnya, sang ibu, Asmah (68), setia menemani. Tatapannya penuh cemas, namun tak lagi mampu berbuat banyak. Tangan renta itu hanya bisa mengelus lembut tubuh anaknya—anak yang dulu menjadi sandaran hidup keluarga, kini justru terbaring tak berdaya.
Dulu, Arifin adalah tulang punggung keluarga. Dengan keringat dan tenaga, ia menghidupi kedua anaknya sekaligus merawat ibunya. Namun sejak November 2025, hidup mereka berubah drastis.
Penyakit datang tanpa ampun, perlahan merenggut kekuatan Arifin, hingga akhirnya ia hanya mampu terbaring, tanpa daya, tanpa kepastian.
Upaya berobat pernah dilakukan. Ia sempat keluar masuk rumah sakit, termasuk RS Wulan Windi Marelan. Namun kenyataan pahit harus diterima—biaya menjadi penghalang terbesar. Kini, langkah menuju rumah sakit terasa begitu jauh, bukan karena jarak, tetapi karena ketiadaan biaya.
“Saya hanya ingin anak saya sembuh…,” ucap Ibu Asmah lirih, dengan suara yang nyaris tak terdengar, menahan tangis yang sejak lama ia simpan.
Mereka kini tinggal di rumah sewa sederhana di Jalan Jala 1X, Lorong Karmila, Kelurahan Paya Pasir, Medan Marelan. Jauh dari kata layak, namun itulah satu-satunya tempat berteduh bagi mereka bertiga, dalam keterbatasan yang semakin menghimpit.
Hari demi hari berlalu dalam keheningan. Tak ada yang bisa dilakukan selain berharap. Berharap ada tangan-tangan kebaikan yang terulur. Berharap ada hati yang tergerak untuk membantu. Karena bagi Ibu Asmah, harapan itu kini satu-satunya yang tersisa.
Dengan segala kerendahan hati, ia memohon kepada para dermawan, para hamba Allah, agar berkenan membantu biaya pengobatan anaknya—agar Arifin bisa kembali dibawa ke rumah sakit, mendapatkan perawatan, dan mungkin… kembali bangkit dari sakitnya.
Di tengah keterbatasan ini, doa seorang ibu tak pernah putus.
Ia hanya ingin satu hal sederhana: melihat anaknya kembali membuka mata dengan harapan, bukan dengan rasa sakit.
Indra

