Kritik Pendidikan Kontemporer: Adhi Ayoe Yanthy Berikan Dukungan Penuh pada Inisiatif Literasi Perempuan

Oplus_16908288

JAKARTA TIMUR – Majelis Penasehat DPP Pergerakan Sarinah sekaligus Ketua FKDM Provinsi DKI Jakarta, Ibu Adhi Ayoe Yanthy, memberikan dukungan penuh serta pesan kebangsaan yang menggugah dalam rangkaian kegiatan kolaborasi bertajuk “Kartini dan Literasi Pencerdasan Kaum Perempuan” yang digelar pada Minggu, 26 April 2026 di Aula Kecamatan Jatinegara.

Dalam kata sambutannya di hadapan para peserta dan tokoh masyarakat, Adhi Ayoe menekankan bahwa inisiatif literasi seperti ini adalah jawaban nyata atas mandeknya esensi pencerdasan dalam sistem pendidikan modern. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara DPC Pergerakan Sarinah Jakarta Timur sebagai inisiator, Sarinah GMNI Jakarta Timur, FKDM, dan FTBM Jakarta Timur.

Adhi Ayoe Yanthy mengawali sambutannya dengan memberikan apresiasi tinggi terhadap sinergi empat lembaga yang mampu menyatukan visi untuk kepentingan kaum perempuan. Beliau menegaskan bahwa kehadirannya bukan sekadar tamu undangan, melainkan bentuk dukungan moril dan kelembagaan dari FKDM Provinsi DKI Jakarta terhadap gerakan pencerdasan yang dimulai dari akar rumput. Menurutnya, kolaborasi yang melibatkan unsur mahasiswa, organisasi kemasyarakatan, forum kewaspadaan, dan pegiat literasi adalah formula yang tepat untuk membangun ketahanan sosial melalui jalur intelektual.Dalam pesan yang sarat akan refleksi sejarah, Adhi Ayoe menyampaikan kritik tajam terhadap kondisi pendidikan nasional saat ini.

Beliau menyatakan bahwa meskipun gedung sekolah menjamur dan jumlah guru meningkat pesat, pendidikan yang benar-benar mampu mencerdaskan dan memerdekakan cara berpikir belum sepenuhnya tercapai.

“Kita harus berani jujur melihat realita. Jika kita cek dari sisi output, seringkali kualitas daya kritis masyarakat saat ini terasa lebih memprihatinkan dibandingkan jaman penjajahan Hindia-Belanda,” ujar Adhi Ayoe dalam sambutannya.

Ia menekankan bahwa pendidikan saat ini jangan sampai hanya menjadi pabrik ijazah, tetapi harus kembali pada ruh literasi yang sesungguhnya.Beliau kemudian mengajak hadirin untuk meneladani sosok Raden Ajeng Kartini yang memiliki standar intelektual luar biasa.

Adhi Ayoe memaparkan fakta sejarah bahwa pada usia 12 tahun, Kartini sudah mampu berpikir global dengan membuka jaringan korespondensi ke luar negeri untuk memperjuangkan kepentingan bangsanya.

Hal inilah yang menurutnya harus menjadi standar bagi perempuan masa kini: literasi yang melahirkan keberanian untuk bertindak dan memperluas jaringan pengetahuan. Dukungan beliau terhadap acara ini didasari pada keinginan melihat lahirnya perempuan-perempuan yang mampu mengontekstualisasikan pemikiran Kartini dalam menghadapi isu-isu publik saat ini.

Kegiatan yang dilaporkan oleh Reva Pasaribu selaku Ketua Pelaksana ini juga mendapat apresiasi dari Adhi Ayoe karena mampu menghadirkan narasumber kompeten seperti Ibu Dr. Endang Kartika W., S.K.M., M.M., yang membahas literasi digital dan pencegahan kecanduan gawai. Adhi Ayoe berharap agar gerakan literasi yang diinisiasi oleh Ketua DPC Pergerakan Sarinah Jakarta Timur, Tiarma Simanjuntak, tidak berhenti pada seremoni satu hari, melainkan berlanjut menjadi program berkelanjutan yang didukung oleh berbagai pihak.

Menutup sambutannya, Adhi Ayoe Yanthy menegaskan kembali dukungannya terhadap semangat “Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang”.

Beliau berharap kolaborasi ini menjadi pemantik bagi perempuan untuk lebih sensitif dalam mengelola informasi dan berkontribusi dalam pembangunan berbasis pengetahuan. “Literasi adalah modal dasar kita untuk merespons persoalan publik secara kritis dan solutif. Saya berdiri di sini untuk memastikan bahwa gerakan seperti ini tidak berjalan sendirian,” pungkasnya di akhir sambutan yang disambut antusias oleh seluruh peserta. (TS/MG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *