Sukabumi — Di usia yang seharusnya dipenuhi mimpi, tak sedikit generasi muda yang justru berdiri di tepi jurang tanpa mereka sadari. Namun di SMAN 1 Sukaraja, Selasa (21/4/2026), secercah harapan kembali dinyalakan—pelan, hangat, dan menyentuh hati.
Siswa Sekolah Inspektur Polisi (SIP) Angkatan 55 Tahun Ajaran 2026 Resimen Desaka Dhira Pradhipa hadir, bukan sekadar menjalankan tugas, tetapi membawa kegelisahan yang sama: bagaimana menyelamatkan masa depan anak-anak bangsa sebelum semuanya terlambat.
Di Jalan MH. Holil No. 261 itu, suasana berubah menjadi lebih hening dari biasanya. Bukan karena takut, tetapi karena setiap kata yang disampaikan terasa begitu dekat—seolah berbicara langsung ke dalam hati.
Dari Sindikat 12 Kelas C-2, para siswa Setukpa Polri datang sebagai pengingat bahwa jalan hidup tidak selalu lurus. Ada godaan yang mengintai—narkoba, tawuran, bullying, geng motor, hingga judi online—yang perlahan bisa merenggut masa depan tanpa ampun.
Turut hadir Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Iqbal Rafsanjani, Danton Pengasuh Siswa Ipda Ajat Sudrajat, serta 25 serdik Setukpa. Namun hari itu, mereka bukan sekadar tamu. Mereka adalah penjaga harapan, yang datang untuk memastikan tidak ada satu pun pelajar yang merasa sendirian menghadapi dunia yang keras.
Saat Rizki S. Nugroho berdiri dan berbicara, suasana seakan berhenti sejenak. Ia tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga kekhawatiran—tentang anak-anak muda yang mungkin hari ini masih tertawa, namun esok bisa saja kehilangan arah.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap pesan kamtibmas benar-benar sampai dan menyentuh hati adik-adik semua,” ucapnya lirih, penuh harap. “Karena narkoba tidak hanya merusak masa depan, tetapi juga menghancurkan harapan orang tua yang setiap malam berdoa untuk kalian. Bullying, tawuran, geng motor, hingga judi online… semuanya perlahan mencuri masa depan kalian tanpa terasa.”
Kata-kata itu tidak menggema keras, tetapi jatuh pelan—dan justru karena itu, terasa lebih dalam.
Suasana semakin hangat saat Okto Fajar membuka ruang dialog. Di sana, tak ada jarak antara pembicara dan pelajar. Yang ada hanya cerita, keresahan, dan kejujuran. Mereka tidak hanya diberi nasihat, tetapi juga didengar—dan bagi sebagian anak, itu mungkin adalah hal yang paling mereka butuhkan.
Di akhir kegiatan, senyum yang terukir bukan sekadar formalitas. Ada haru yang tak terucap. Dalam foto bersama dan penyerahan cinderamata, tersimpan pesan sederhana: bahwa masih ada yang peduli, masih ada yang ingin menjaga.
Dari ruang kelas itu, harapan kembali dititipkan—rapuh, namun penuh arti. Semoga langkah kecil hari ini mampu menghentikan langkah besar menuju kesalahan.
Karena di balik seragam sekolah itu, ada mimpi yang belum sempat diwujudkan… dan di balik setiap anak, ada orang tua yang diam-diam berharap mereka pulang dengan masa depan yang utuh.
Indra/humas

