Medan Marelan – Hamparan beton yang belum rampung kini menjadi saksi bisu lahirnya tanda tanya besar di tengah masyarakat. Di kawasan Paya Pasir, Siombak Atas, proyek pembangunan rigid beton yang semestinya menghadirkan harapan justru memunculkan kegelisahan. Aktivitas pekerjaan tampak terhenti, sementara papan informasi proyek—yang menjadi simbol keterbukaan kepada publik—tak terlihat di lokasi.
Di balik sunyinya proyek itu, muncul pertanyaan yang terus bergema: ada apa sebenarnya?
Kondisi tersebut membuat Ketua Umum Relawan Tegak Lurus Prabowo, Ir. H. Arse Pane, bersama sejumlah awak media turun langsung ke lokasi untuk melihat fakta di lapangan.
Hasil peninjauan menambah daftar pertanyaan. Sepanjang lokasi proyek, rombongan mengaku tidak menemukan papan informasi yang semestinya memuat identitas pekerjaan, sumber anggaran, nilai kontrak, pelaksana proyek, hingga target penyelesaian. Padahal, informasi tersebut merupakan hak masyarakat untuk mengetahui bagaimana uang negara digunakan.
“Kami sengaja datang bersama rekan-rekan media agar masyarakat mendapatkan informasi yang benar. Sangat kami sayangkan, sampai hari ini papan proyek tidak ada. Bagaimana masyarakat bisa ikut mengawasi jika identitas proyek saja tidak diketahui?” tegas Arse Pane.
Menurutnya, absennya papan informasi bukan sekadar persoalan administrasi. Kondisi itu dinilai berpotensi mengikis kepercayaan publik dan membuka ruang munculnya berbagai dugaan yang seharusnya bisa dihindari melalui keterbukaan.
Sorotan semakin menguat ketika Arse Pane mengungkapkan telah berupaya menghubungi pihak pelaksana proyek guna meminta penjelasan mengenai progres pekerjaan. Namun hingga peninjauan selesai dilakukan, nomor yang dihubungi tidak dapat diakses sehingga belum ada klarifikasi resmi.
Penelusuran kemudian mengarah ke PT Jaya Beton setelah sejumlah pekerja di lapangan menyampaikan bahwa pekerjaan rigid beton disebut dihentikan sementara atas permintaan perusahaan tersebut. Meski demikian, Arse Pane menegaskan informasi tersebut masih sebatas keterangan awal yang diperoleh di lapangan dan belum dapat dipastikan kebenarannya tanpa penjelasan resmi dari pihak terkait.
“Kami tidak ingin membangun opini maupun menyimpulkan sesuatu tanpa dasar. Justru karena itu kami meminta pihak pelaksana proyek dan PT Jaya Beton segera berbicara secara terbuka kepada publik. Diam hanya akan melahirkan semakin banyak pertanyaan,” ujarnya.
Ia menambahkan, setiap proyek yang dibiayai dengan anggaran negara harus dilaksanakan secara terbuka, profesional, dan dapat diawasi masyarakat. Transparansi bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan bentuk penghormatan terhadap hak publik.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak pelaksana proyek maupun PT Jaya Beton belum memberikan keterangan resmi terkait tidak ditemukannya papan informasi proyek maupun informasi mengenai dugaan penghentian pekerjaan.
Kini, masyarakat hanya bisa menatap proyek yang sunyi tanpa kepastian. Beton telah dicor, namun jawaban belum mengalir. Di tengah berhentinya aktivitas pembangunan, satu pertanyaan terus menggema dari bibir warga: mengapa proyek ini seolah berjalan dalam senyap, dan siapa yang akan menjelaskan semuanya kepada publik?
(Tim)

