“Saat Harapan Nyaris Padam, Langkah Cepat Camat Medan Marelan Menjadi Penyelamat”

MARELAN — Di sebuah lorong kecil yang sunyi di Jalan Jala IX, Lorong Karmila, Kelurahan Paya Pasir, kehidupan berjalan dalam keterbatasan. Di balik dinding rumah sederhana itu, seorang ayah, Mohammad Arifin, tengah berjuang melawan penyakit Tuberkulosis (TB) yang perlahan menggerogoti tubuhnya—namun tak pernah mampu mematahkan cintanya untuk keluarga.

Hari itu, harapan yang sempat meredup seakan kembali menyala.

Mendapat kabar pilu tentang kondisi tersebut, Camat Medan Marelan, Zulkifli S. Pulungan, S.STP., M.AP., bersama Kepala Puskesmas Kelurahan Terjun, datang tanpa menunda. Bukan sekadar kunjungan biasa, tetapi langkah nyata yang membawa kepedulian, menyentuh langsung luka yang selama ini dipendam dalam diam.

Di hadapan keluarga yang penuh harap, kehadiran mereka bukan hanya membawa bantuan—tetapi juga menghadirkan rasa bahwa mereka tidak sendiri dalam menghadapi ujian hidup ini.

Suasana haru tak terelakkan. Di tengah kesederhanaan rumah itu, tersimpan perjuangan seorang kepala keluarga yang tetap bertahan meski tubuhnya melemah, demi tetap menjadi sandaran bagi anak-anaknya.

Dengan suara yang penuh empati, Camat Medan Marelan menyampaikan,

“Kami turut merasakan apa yang Bapak alami. Kami hadir bukan sekadar melihat, tetapi ingin memastikan bahwa Bapak mendapatkan perhatian dan penanganan yang layak. Kami akan berupaya semaksimal mungkin agar pengobatan dapat berjalan hingga sembuh,” ucapnya lirih.

Ia menegaskan, pemerintah tidak boleh hanya hadir dalam acara seremonial. Kehadiran yang sesungguhnya adalah saat masyarakat sedang jatuh, saat harapan mulai pudar, dan saat bantuan sangat dibutuhkan.

Koordinasi pun segera dilakukan dengan pihak Puskesmas Terjun dan Rumah Sakit Wulan Windi, memastikan Mohammad Arifin mendapatkan perawatan yang layak, tanpa harus memikirkan beban biaya yang kian menghimpit.

Bagi keluarga, kunjungan itu bukan sekadar perhatian—melainkan titik balik. Di tengah kesulitan yang selama ini mereka hadapi dalam diam, akhirnya ada tangan yang menggenggam, ada suara yang menguatkan, dan ada harapan yang kembali ditumbuhkan.

Kisah ini menjadi pengingat, bahwa di balik setiap derita, selalu ada ruang untuk harapan. Dan ketika kepedulian hadir dengan tulus, sekecil apa pun langkahnya, ia mampu menghidupkan kembali semangat yang nyaris padam.

Di lorong kecil itu, hari ini bukan lagi tentang sakit semata.

Tetapi tentang harapan yang bangkit kembali… dan keyakinan bahwa mereka tidak lagi berjalan sendirian

Indra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *