Penuh Rasa Haru, Keluarga dan WBP Buka Puasa Bersama di Lapas Muara Bungo

Muara Bungo – (Jelajah Perkara) — Moment bulan suci Rahmadhan 1447 H, Lapas Kelas IIB Muara Bungo terasa berbeda, dimana kesan yang dulunya terdengar seram dan menjadi jarak pemisah antara keluarga dan para narapidana yang sedang menjalani masa pidananya didalam sel tahanan yang dijaga ketat oleh para penjaga lapas. Ternyata dibulan Rahmadhan ini terlihat berbeda, tidak seperti yang dibayangkan kebanyakan masyarakat awam. Hal itu itu terlihat saat para Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP), Lapas Muara Bungo melaksanakan berbuka puasa bersama dengan turut dihadiri keluarga,” Senin ( 2/3/2026) malam.

Kegiatan yang berlangsung penuh haru dan kebersamaan ini menjadi bukti bahwa pembinaan di dalam lapas tak hanya soal aturan dan kedisiplinan, tetapi juga tentang sentuhan hati dan sisi kemanusiaan.

Adapun kegiatan berbuka bersama keluarga dan WBP Lapas Muara Bungo itu, diawali dengan tausiyah singkat yang mengingatkan pentingnya Ramadan sebagai momentum introspeksi dan memperbaiki diri dan dilanjut dengan berbuka bersama.

Kepada awak media ini, Kalapas Muara Bungo, Muhamad Kameily, menyampaikan bahwa kegiatan berbuka puasa para WBP bersama keluarga ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari pendekatan pembinaan berbasis kekeluargaan,” ujar Muhammad Kameily, Selasa(3/3/2026)pagi.

“Ramadan adalah bulan penuh ampunan dan kebersamaan. Kami ingin menghadirkan suasana yang lebih humanis didalam lingkungan lapas. Melalui buka bersama ini, kami berharap para WBP semakin termotivasi untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik dengan dukungan keluarga sebagai kekuatan utama,” sambung Kalapas dengan penuh semangat.

Muhammad Kameily juga menegaskan bahwa keluarga memiliki peran penting dalam proses reintegrasi sosial para WBP.

Ketika keluarga hadir dan memberikan dukungan, itu menjadi energi positif yang sangat luar biasa. Inilah yang ingin terus kami bangun, dimana, lapas sebagai tempat pembinaan, bukan sekadar tempat menjalani hukuman,” tambahnya.

Senada dengan itu, Kasi Binadik Lapas Muara Bungo, Tiopan P. Situmorang, menekankan bahwa pembinaan mental dan spiritual menjadi fokus utama selama bulan Ramadan.

Kegiatan seperti ini menjadi bagian dari program pembinaan kepribadian. Kami ingin memastikan bahwa WBP tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga mendapatkan pembinaan rohani yang kuat.

“Dengan kebersamaan seperti ini, semangat mereka untuk berubah semakin tumbuh,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Pengamanan Lapas (KPLP), Bapak Ilham Kurniadi, memastikan bahwa kegiatan berjalan aman, tertib, dan kondusif tanpa mengurangi makna kekeluargaan.

“Kami tetap mengedepankan aspek keamanan, namun dengan pendekatan yang humanis. Alhamdulillah, kegiatan berlangsung lancar. Ini menunjukkan bahwa suasana kondusif dapat tercipta ketika semua pihak saling menghargai dan menjaga ketertiban,” ungkapnya.

Tampak, saat moment dalam kegiatan tersebut, suasana paling mengharukan terjadi saat azan Magrib berkumandang. Doa dipanjatkan bersama, air mata haru pun tak terbendung dari sebagian keluarga yang akhirnya dapat berbuka puasa bersama orang terkasih meski dalam keterbatasan.

Senyum, pelukan, dan doa menjadi bukti bahwa di balik tembok tinggi, harapan dan cinta tetap tumbuh tanpa batas,melalui kegiatan ini, Lapas Kelas IIB Muara Bungo kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada aturan, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan. Ramadan kali ini menjadi saksi bahwa perubahan selalu dimulai dari hati dan keluarga adalah bagian penting dari perjalanan itu,” pungkasnya.( HP).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *