Imigrasi Belawan Sentuh Hati Pelajar, Bentengi Masa Depan dari Ancaman Perdagangan Orang

MEDAN – Di tengah ancaman nyata kejahatan perdagangan orang yang terus mengintai, Kantor Imigrasi Kelas II TPI Belawan hadir membawa harapan. Lewat edukasi yang menyentuh, para pelajar diajak membuka mata dan memahami bahaya besar yang kerap tersembunyi di balik iming-iming kehidupan yang tampak menjanjikan.

Bertempat di SMA Yayasan Panti Asuhan Bani Adam, Kota Medan, Sumatera Utara, puluhan siswa mengikuti kegiatan ini dengan penuh perhatian. Bukan sekadar penyuluhan biasa, momen ini menjadi ruang pembelajaran yang menggugah kesadaran—bahwa masa depan mereka terlalu berharga untuk dipertaruhkan.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Belawan, Eko Yudis Parlin Rajagukguk, menegaskan pentingnya membekali generasi muda dengan pemahaman sejak dini.

“Anak-anak ini adalah harapan bangsa. Mereka harus tahu dan mengerti bagaimana bahaya TPPO dan TPPM bisa mengancam siapa saja, termasuk mereka,” ujarnya dengan penuh kepedulian.

Dalam suasana yang hangat namun sarat makna, para siswa diperkenalkan pada berbagai modus operandi yang sering digunakan pelaku, dampak pahit yang ditinggalkan, hingga langkah-langkah pencegahan agar tidak menjadi korban. Edukasi ini seolah menjadi perisai awal, membangun keberanian dan kewaspadaan dalam diri para pelajar.

Lebih dari itu, para siswa juga diberikan pemahaman tentang pentingnya dokumen perjalanan seperti paspor—bukan sekadar lembaran kertas, tetapi identitas yang harus dijaga dan digunakan dengan bijak.

Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (14/4) dan diikuti sekitar 30 siswa ini menjadi bagian dari komitmen nyata Imigrasi Belawan dalam melindungi generasi muda. Sebuah langkah kecil, namun bermakna besar dalam upaya memutus mata rantai kejahatan perdagangan orang dan penyelundupan manusia.

Di sisi lain, Kepala SMA Yayasan Panti Asuhan Bani Adam, Sharin Silalahi, tak mampu menyembunyikan rasa apresiasinya. Ia menilai kegiatan ini bukan hanya menambah wawasan, tetapi juga menanamkan rasa waspada yang akan terus melekat dalam diri siswa.

“Ini bukan sekadar edukasi, tapi bekal hidup bagi anak-anak kami. Agar mereka tidak mudah terbuai, tidak mudah percaya, dan selalu berhati-hati dalam melangkah,” tuturnya.

Dari ruang kelas sederhana itu, harapan besar tumbuh. Bahwa dengan pengetahuan dan kesadaran, generasi muda mampu menjaga diri, saling mengingatkan, dan berdiri tegak melawan segala bentuk kejahatan yang mengancam masa depan mereka.

Indra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *