Heboh dan Penuh Khidmat! Di Kantor & Lapangan Luwu Utara Rayakan Hari Jadi Luwu ke-758 dan Hari Perlawanan Rakyat ke-80

Luwu Utara, 23 Januari 2026 – Peringatan Hari Jadi Luwu (HJL) ke-758 dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu (HPRL) ke-80 berlangsung meriah dari 21 hingga 24 Januari 2026 di halaman Kantor dan Lapangan Luwu Utara Ribuan masyarakat dari berbagai elemen memadati Lapangan untuk merayakan momentum bersejarah yang sarat nilai budaya, perjuangan, dan persatuan, dengan tema “Sing Kerru In In Nawa Lipu Di Menge De” yang bermakna mempererat persatuan dan tumbuh bersama di tanah Luwu.

Rangkaian Kegiatan

– 20 Januari: Perangkat Kedatuan Luwu melaksanakan ziarah ke makam Dato’ Sulaiman dan Datu Luwu La Patti Ware’ di Kabupaten Luwu Utara sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang berjasa menyebarkan agama dan membangun peradaban Luwu.
– 21 Januari: Kegiatan diawali dengan pengibaran bendera merah putih dan bendera kebesaran Kesatuan Luwu. Selanjutnya dilaksanakan prosesi Tudang Ade’ (musyawarah adat) di Gedung Salassae, yang dihadiri oleh perwakilan pemerintah daerah dari seluruh wilayah Tana Luwu dan sekitarnya. Pada acara ini juga dilakukan pengukuhan pengurus Forum Masyarakat Bumi Sawerigading oleh Datu Luwu ke-40, H. Andi Mara Dang Macculau Opu To Bau, SH.
– 22 Januari: Pemerintah Kabupaten Luwu menjamu makan siang rombongan Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) di Rumah Jabatan Bupati Luwu. Bupati Luwu Utara Andi Rahim menyampaikan bahwa Luwu merupakan induk dari tiga daerah otonom di Tana Luwu dan memiliki potensi ekonomi yang besar, serta mengajak untuk mempererat hubungan dalam menjaga warisan budaya.
– 23 Januari: Puncak peringatan HPRL dengan upacara peringatan untuk mengenang perjuangan rakyat Luwu pada tahun 1946 dalam mempertahankan kemerdekaan.

Makna Sejarah

Hari Jadi Luwu menandai kelahiran kerajaan yang memiliki sejarah panjang dan menjadi salah satu pusat peradaban tertua di Sulawesi. Sedangkan Hari Perlawanan Rakyat Luwu diperingati untuk mengenang peristiwa penyerangan rakyat Luwu terhadap tentara Belanda pada 23 Januari 1946, sebagai bukti kesetiaan pada tanah air.

Bupati Luwu Utara Andi Rahim menyatakan bahwa nilai adat dan budaya Luwu bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga penuntun dalam kehidupan masa kini dan masa depan, dengan kekuatan terbesar terletak pada masyarakat yang menjunjung tinggi nilai sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge.

Redaksi : Jelajahperkara2
Mariyanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *