SERDANG BEDAGAI — Tak semua pengabdian terdengar nyaring. Sebagiannya justru tumbuh dalam diam—di ruang-ruang sederhana, di balik meja kerja, di antara tatap mata yang menyimpan harapan yang sama: menjaga negeri ini tetap baik-baik saja.
Sabtu itu, (25/4/2026), bukan sekadar hari biasa. Di ruang kerja Sat Intelkam Polres Serdang Bedagai, sebuah ikatan tak kasat mata kembali diperkuat—ikatan antara penjaga keamanan dan penjaga kebenaran.
Ketika susunan kepengurusan baru Wartawan Mitra Humas Polres Sergai (WMHPSB) diserahkan, yang berpindah tangan bukan hanya selembar kertas. Tapi juga amanah. Amanah untuk menjaga kepercayaan publik yang begitu rapuh di tengah derasnya arus informasi yang kerap tak lagi berpihak pada kebenaran.
Kasat Intelkam, Iptu Sukma Atmaja, S.H., menerimanya dengan penuh kesadaran bahwa tugas menjaga keamanan tak pernah berdiri sendiri. Ada peran lain yang tak kalah penting—mereka yang menulis, merekam, dan menyampaikan kebenaran kepada masyarakat.
Di sanalah nama Yusnar Al Banjari berdiri sebagai Ketua, bersama Novriandy sebagai Sekretaris, dan Syaiful Anwar sebagai Bendahara. Bersama 43 wartawan lainnya, mereka bukan hanya membentuk sebuah struktur organisasi—mereka sedang memikul harapan.
Harapan agar setiap kata yang ditulis tak sekadar menjadi berita, tapi juga menjadi penyejuk di tengah kegelisahan. Harapan agar setiap informasi yang disampaikan tak sekadar cepat, tapi juga benar.
Dalam suaranya yang tenang, Iptu Sukma Atmaja menyampaikan sesuatu yang lebih dari sekadar harapan. Itu adalah doa—agar sinergi ini tetap terjaga, agar kepercayaan masyarakat tak runtuh oleh kabar yang tak bertanggung jawab.
“Di tengah dunia yang bising, kita harus tetap menjadi penenang. Menyampaikan yang benar, bukan yang sekadar ramai,” ucapnya lirih, namun sarat makna.
Sementara itu, Yusnar Al Banjari memahami betul beban di pundaknya. Ia tahu, menjadi wartawan hari ini bukan hanya soal mencari berita, tapi juga menjaga nurani.
“Kami ingin hadir bukan hanya sebagai penyampai kabar, tapi sebagai penjaga kepercayaan. Karena sekali kepercayaan itu hilang, sulit untuk kembali,” katanya, dengan nada yang tak sekadar tegas, tapi juga penuh kesadaran.
Di luar sana, mungkin dunia terus berisik dengan kabar yang saling bersahutan. Namun di ruangan itu, lahir sebuah komitmen dalam diam—bahwa kebenaran akan tetap diperjuangkan, bahwa sinergi akan tetap dijaga.
Dan mungkin, masyarakat tak pernah melihat momen ini secara langsung. Tapi dari sinilah, rasa aman itu perlahan lahir. Dari sinilah, kepercayaan itu dijaga—tanpa sorotan, tanpa tepuk tangan.
Karena pada akhirnya, yang paling berarti bukan siapa yang terlihat…
melainkan siapa yang tetap berdiri, menjaga, saat yang lain memilih pergi.
Humas/indra

