Batam, Kepulauan Riau,29-05-2026 — Ketika sebagian masyarakat harus berjibaku mencari bahan bakar minyak (BBM) jenis solar, antre panjang di SPBU menjadi pemandangan sehari-hari, dan para nelayan maupun pelaku usaha kecil mengeluhkan sulitnya pasokan, sebuah aktivitas mencurigakan justru disebut berjalan mulus di balik pagar seng hitam yang tertutup rapat di kawasan Jalan Dapur 12, Kavling Melati, Sungai Pelunggut, Kecamatan Sagulung.
Di lokasi yang dari luar tampak seperti bangunan biasa itu, kendaraan-kendaraan tangki diduga keluar masuk tanpa henti. Tidak terlihat papan nama perusahaan. Tidak tampak identitas badan usaha resmi. Bahkan izin operasional yang semestinya terpampang terbuka untuk publik pun nyaris tak terlihat. Namun aktivitas distribusi solar diduga terus berlangsung seolah tanpa rasa takut.
Kawasan itu kini menjadi perbincangan warga sekitar. Sebagian menyebutnya sebagai “pelabuhan siluman”, sebuah tempat tertutup yang diduga menjadi jalur keluar masuk solar industri secara diam-diam.
Truk Tangki Masuk Tanpa Hambatan
Pada Kamis, 23 April 2026, tim media melakukan penelusuran langsung ke lokasi. Dari hasil pantauan di lapangan, terlihat satu unit truk tangki biru putih bertuliskan “Solar Industri” dengan nomor polisi BP 8736 memasuki area berpagar seng hitam tersebut tanpa hambatan berarti.
Gerbang tertutup itu terbuka singkat, lalu kendaraan besar tersebut masuk ke dalam area yang sulit dipantau dari luar. Situasi itu memunculkan tanda tanya besar di tengah masyarakat.
Sebab di tengah kondisi solar yang dikabarkan langka di sejumlah tempat, aktivitas di balik pagar seng itu justru terlihat berjalan normal, bahkan terkesan terorganisir.
Aktivitas Malam Hari Diduga Sudah Lama Berlangsung
Warga sekitar mengaku aktivitas kendaraan tangki di lokasi tersebut bukanlah hal baru. Salah seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan menyebut mobil-mobil besar hampir setiap hari terlihat keluar masuk, bahkan hingga larut malam.
“Sudah lama itu, Pak. Hampir tiap hari mobil tangki masuk. Kadang malam juga masih ada aktivitas,” ujar warga dengan nada pelan.
Keterangan warga semakin memperkuat dugaan adanya aktivitas distribusi BBM yang berjalan secara tertutup. Di saat masyarakat kecil kesulitan mendapatkan solar, lokasi tersebut justru terlihat tetap hidup tanpa hambatan.
“Sekarang solar susah dicari masyarakat. Nelayan susah, usaha kecil juga susah. Tapi di situ tetap ada kegiatan. Bahkan sering terlihat pengisian langsung ke kapal-kapal yang bersandar di sekitar lokasi,” ungkapnya lagi.
Kalimat itu terasa menyesakkan. Di satu sisi rakyat kecil harus berjuang demi beberapa liter solar untuk bertahan hidup, namun di sisi lain dugaan praktik distribusi besar-besaran justru terlihat berjalan bebas di balik tembok seng tinggi.
Dugaan Keterlibatan Oknum Mulai Jadi Perbincangan
Warga berharap aparat penegak hukum segera turun tangan melakukan pemeriksaan menyeluruh. Sebab menurut mereka, aktivitas sebesar itu sulit dipercaya dapat berjalan lama tanpa ada pihak yang mengetahui.
“Kalau memang melanggar, sebaiknya langsung ditindak. Kami menduga ada oknum yang bermain atau melindungi aktivitas itu,” ujar warga lainnya.
Pernyataan tersebut kini menjadi sorotan serius. Masyarakat mempertanyakan, bagaimana mungkin aktivitas kendaraan tangki dapat berlangsung rutin di lokasi tertutup tanpa pengawasan yang jelas.
Menanti Ketegasan Penegakan Hukum
Pengelolaan BBM merupakan sektor strategis yang diatur ketat oleh negara. Karena itu, dugaan adanya praktik “pelabuhan tikus” atau distribusi solar ilegal bukan hanya sekadar pelanggaran biasa, tetapi juga berpotensi merugikan negara serta menyakiti rasa keadilan masyarakat.
Publik kini menanti keberanian aparat penegak hukum untuk membuka tabir aktivitas di balik pagar seng hitam tersebut. Sebab jika benar ada praktik ilegal yang berlangsung, maka penindakan tegas harus dilakukan tanpa pandang bulu.
Jangan sampai hukum hanya tajam ke bawah namun tumpul ketika berhadapan dengan kepentingan tertentu.
Di tengah jeritan masyarakat mencari solar, keberadaan “pelabuhan siluman” itu menjadi luka yang perlahan mengikis kepercayaan publik terhadap penegakan hukum.
Tim

