Medan, 27 Mei 2026 — Tak ada yang lebih menyakitkan selain dipermalukan di hari raya yang seharusnya memuliakan manusia. Di saat gema takbir Idul Adha 1447 Hijriah berkumandang membawa pesan keikhlasan dan kasih sayang, suasana di belakang Mapolda Sumatera Utara justru berubah menjadi potret pilu tentang rakyat kecil dan wartawan yang merasa diabaikan, dibentak, bahkan diperlakukan tanpa empati.
Di bawah terik matahari sore, puluhan masyarakat bersama awak media sudah berdiri menunggu sejak pukul 14.00 WIB. Mereka datang bukan untuk meminta-minta. Mereka hadir karena memegang kupon resmi pembagian daging qurban. Mereka percaya undangan itu adalah bentuk penghargaan dan kepedulian di hari suci. Namun yang mereka dapatkan justru penantian panjang tanpa kepastian, kebingungan yang melelahkan, hingga perlakuan yang meninggalkan luka batin.
Wartawan yang selama ini menjadi penyambung informasi institusi kepolisian kepada publik terlihat mondar-mandir tanpa arah di area belakang Mapolda Sumut, tepatnya di belakang Kantor Satpas Polrestabes Medan yang baru. Lokasi pembagian yang tidak jelas membuat suasana kacau. Kekecewaan akhirnya meledak. Adu mulut antara awak media dan pihak Bid Humas Polda Sumut pun tak terhindarkan.
Namun luka terbesar hari itu bukan hanya soal keterlambatan pembagian daging qurban. Melainkan tentang bagaimana manusia diperlakukan di tengah momentum yang seharusnya mengajarkan penghormatan terhadap sesama.
Masyarakat yang telah lama menunggu disebut mendapat teguran keras dari oknum personel Propam Polda Sumut. Dengan nada tinggi, warga diminta bergeser dari lokasi hanya karena dianggap berdiri di area taman.
“Cepat bergeser dari sini, ini bukan jalan, ini taman.”
Kalimat itu mungkin singkat. Tetapi bagi warga kecil yang menunggu dengan penuh harap demi membawa pulang sedikit daging untuk keluarga di rumah, ucapan itu terasa seperti cambuk yang menghantam harga diri mereka di hari raya.
Sebagian warga memilih diam. Sebagian lainnya hanya bisa menahan kecewa. Sebab di hadapan seragam dan kewenangan, suara rakyat kecil sering kali terasa tak berarti.
Tak berhenti di situ, sejumlah wartawan dan masyarakat juga mengaku sempat dihalangi masuk melalui Pos Pintu 6 belakang Mapolda Sumut. Mereka diminta terus menunggu dengan alasan pemotongan belum selesai.
“Kalau sudah selesai pasti dibagi,” ujar seorang warga menirukan ucapan petugas dengan nada getir.
Ironisnya, di hari ketika hewan qurban disembelih sebagai simbol pengorbanan dan ketulusan, justru perasaan manusia yang terasa paling tersayat. Daging mungkin akhirnya terbagi. Namun rasa malu karena dianggap mengganggu, rasa kecewa karena diperlakukan tidak layak, dan rasa sakit karena merasa tidak dihargai sebagai manusia, menjadi luka yang sulit dihapus begitu saja.
Bagi sebagian wartawan, peristiwa itu bukan sekadar soal qurban. Ini tentang harga diri profesi yang seolah runtuh di halaman belakang institusi yang selama ini mereka jaga pemberitaannya. Sementara bagi masyarakat kecil, Idul Adha tahun ini mungkin akan dikenang bukan karena nikmatnya daging qurban, tetapi karena pahitnya perlakuan yang mereka terima.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Humas Polda Sumut belum memberikan klarifikasi resmi terkait kisruh pembagian daging qurban yang kini menuai sorotan dan kekecewaan luas.
Sumber: Mata Pers Indonesia

