Diduga Pengendalian Hama Belum Efektif, Petani Trimurjo dan Liman Benawi Berguguran: Tikus Berpesta, Panen Tinggal Harapan

Lampung Tengah – Jeritan petani akibat serangan hama tikus kini semakin meluas di wilayah Kecamatan Trimurjo, Kabupaten Lampung Tengah. Setelah sebelumnya dikeluhkan petani di Kelurahan Trimurjo, kini petani di Dusun II yang mengalami kerusakan parah dan di dusun VI Kampung Liman Benawi juga kesulitan air yang berdampak mengalami gagal panen. Mereka menilai serangan tikus yang terus berulang diduga diperparah oleh pola tanam yang tidak serempak, sehingga hama terus berkembang tanpa pengendalian yang efektif.

Seorang petani yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan, kondisi di lapangan sangat memprihatinkan. Menurutnya, banyak petani terpaksa menanam padi hingga dua kali karena tanaman yang baru ditanam langsung habis dimakan tikus.

“Bukan hanya yang baru tanam, padi yang sudah berumur sekitar dua bulan pun tetap dimakan tikus. Bahkan ada yang sama sekali tidak panen karena habis dimakan tikus,” ungkapnya dengan nada sedih, Senin (6/7/2026).

 

Ia menjelaskan, kerugian petani sangat besar. Ada petani yang menggarap lahan sekitar seperempat bau, namun hasil panennya hanya memperoleh dua karung gabah. Bahkan, tidak sedikit tanaman yang telah memasuki fase bunting habis dilalap tikus hingga akhirnya sawah dibajak kembali untuk ditanam ulang.

“Kondisi ini bukan lagi kerugian biasa. Ini sudah menjadi ancaman serius bagi petani. Banyak yang gagal panen karena carut-marutnya pola tanam yang tidak dilakukan secara serempak,” katanya.

 

Menurutnya, ketika sebagian petani telah panen sementara yang lain baru mulai tanam atau memasuki fase bunting, tikus selalu memiliki sumber makanan sehingga populasinya terus berkembang dan sulit dikendalikan.

 

Petani berharap pemerintah melalui Dinas Pertanian Kabupaten Lampung Tengah dan instansi terkait segera mengambil langkah konkret, mulai dari pengaturan pola tanam serempak, penyediaan sarana pengendalian hama, hingga menggerakkan kembali gropyokan tikus secara massal dan berkelanjutan.

 

Konfirmasi kepada pihak terkait

Menindaklanjuti keluhan para petani, awak media telah berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak terkait, di antaranya Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Trimurjo melalui sambungan telepon.

 

Dalam keterangannya, ia membenarkan bahwa penurunan hasil panen bukan hanya dialami oleh satu atau dua petani, melainkan terjadi di berbagai lokasi. Ia juga menyampaikan bahwa sebagai penyuluh, dirinya bersama jajaran telah berupaya maksimal mencari solusi dalam pengendalian hama tikus.

“Bukan hanya mereka yang mengalami penurunan hasil panen. Kami sebagai penyuluh sudah berusaha maksimal. Kalau sehari 24 jam, kami bahkan bekerja sampai ’26 jam’ untuk mencari solusi pengendalian hama tikus,” ujarnya.

 

Ia juga menyatakan terbuka terhadap berbagai masukan apabila ada metode gerakan pengendalian (gerdal) yang dinilai lebih efektif.

“Kalau ada saran bagaimana gerdal yang terbaik, saya siap menerima masukan,” katanya.

 

Koordinator penyuluh tersebut juga menyampaikan bahwa dirinya telah menjadwalkan pertemuan dengan awak media pada Selasa (7/7/2026) dan meminta agar lokasi terdampak dibagikan untuk dilakukan peninjauan langsung.

 

Di akhir percakapan, ia sempat menyampaikan pertanyaan kepada awak media, “Kalau berita ini diterbitkan, apa manfaatnya bagi petani? Apakah ada hasilnya?”

 

Pertanyaan tersebut menjadi cerminan bahwa persoalan hama tikus tidak cukup diselesaikan melalui pemberitaan semata. Namun di sisi lain, suara para petani juga merupakan fakta di lapangan yang perlu diketahui publik sebagai bahan evaluasi bersama. Harapan petani sederhana, yakni hadirnya langkah nyata yang mampu menghentikan kerugian yang terus berulang, sehingga sawah kembali produktif dan ketahanan pangan daerah tetap terjaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *