Hoaks Mengguncang, Tapi Kepercayaan Tak Pernah Tumbang

Jakarta — Di era ketika satu potongan video bisa menghakimi, dan satu narasi bisa membakar opini, nama Hoho Alkaf mendadak diseret dalam pusaran kabar tak benar. Ia disebut-sebut dicopot dari jabatannya sebagai Kepala Desa Purwasaba setelah ditegur Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto.

Isu itu berlari cepat. Dibagikan, dikomentari, dipercaya.

Padahal, kebenaran berjalan lebih pelan — namun pasti.

Hoho tidak membalas dengan kemarahan. Ia memilih menjawab dengan ketenangan.

Bagi Hoho, isu itu bukan hanya soal jabatan yang digiring opini, tetapi tentang hubungan baik yang dipelintir seolah-olah retak. Padahal di balik layar media sosial, komunikasi tetap terjalin hangat. Percakapan via telepon dan video call masih berlangsung. Sapaan “Assalamualaikum” masih terdengar penuh hormat.

Di akun media sosialnya, Hoho pernah menulis tentang sosok yang ia kagumi.

“Sang motivator, salam hormat untuk Jenderal dan salam rahayu. Tegas saat diperlukan, santai pada waktunya. Ketika memimpin, Bapak adalah guru bagi saya.”

Kalimat itu bukan dibuat untuk meredam isu. Ia sudah ada jauh sebelum badai datang.

Dalam sebuah video yang kembali beredar, Menteri Agus berbincang soal lahan desa dan pengembangan ayam petelur. Sebuah obrolan sederhana tentang ketahanan pangan, tentang desa yang ingin maju, tentang peluang yang ingin ditanam.

Tak ada teguran.

Tak ada kemarahan.

Tak ada pencopotan.

Namun potongan video lama tentang penindakan oknum ASN dipisahkan dari konteksnya. Disisipi foto Hoho. Diberi narasi baru. Seolah-olah ia adalah tokoh yang dimaksud.

Di situlah kebenaran mulai dipelintir.

Hoho menyayangkan cara-cara seperti itu. Bukan karena ia takut, tetapi karena ia percaya ruang digital seharusnya menjadi tempat yang mencerahkan, bukan mengaburkan.

“Untuk apa diedit sedemikian rupa, sedangkan itu tidak ada kaitannya dengan saya?” ucapnya, tenang namun tegas.

Ia mengingatkan, jangan sampai demi FYP dan tambahan pengikut, orang rela mengorbankan kejujuran. Jangan sampai viral lebih penting daripada benar.

Di tengah derasnya komentar dan asumsi, Hoho berdiri dengan satu keyakinan: hubungan yang dibangun dengan rasa hormat tidak runtuh oleh potongan video. Persahabatan tidak patah oleh narasi anonim.

Karena pada akhirnya, suara yang paling keras belum tentu yang paling benar.

Dan kebenaran — meski pelan — selalu menemukan jalannya untuk pulang.

Kalau mau min, saya bisa buat versi yang lebih “menggigit” tapi tetap puitis, atau lebih emosional lagi.

Indra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *