Dunia di Ujung Lapar: Tangis Kemanusiaan di Balik Perang Iran vs Israel

Jakarta, 30 Maret 2026 – Di tengah dentuman senjata dan bara konflik yang tak kunjung padam, dunia perlahan memasuki babak paling sunyi sekaligus paling menyakitkan: kelaparan. Perang antara Iran dan Israel yang telah berlangsung selama sebulan kini bukan lagi sekadar soal geopolitik, melainkan tentang nasib jutaan—bahkan miliaran—jiwa manusia.

Pakar hukum internasional, Prof. Dr. Sutan Nasomal, SH, MH, menyuarakan kegelisahan yang dalam. Dari balik percakapan via telepon, suaranya tak hanya membawa analisa, tetapi juga kekhawatiran akan masa depan umat manusia.

“Ini bukan lagi sekadar perang dua negara. Ini tentang manusia yang kehilangan makanannya, kehilangan harapannya… bahkan kehilangan hidupnya,” ucapnya pelan.

Ia menggambarkan dunia yang perlahan tercekik. Jalur energi terputus, harga kebutuhan melambung, dan rakyat kecil menjadi korban pertama yang paling menderita. Di banyak tempat, penghasilan tak lagi cukup untuk sekadar bertahan hidup.

“Orang bekerja sebulan… tapi hanya mampu makan dua minggu. Sisanya? Mereka bertahan dengan harapan yang semakin menipis,” katanya.

Lebih menyayat, ia mengingatkan bahwa kelaparan bukan hanya soal perut kosong, tetapi awal dari kehancuran yang lebih besar. Ketika manusia tak lagi mampu bertahan, konflik baru akan lahir—bukan karena ambisi, tapi karena naluri untuk hidup.

“Kelaparan bisa mengubah manusia. Bisa melahirkan perlawanan, bisa memecah negara… bahkan bisa menghapus rasa kemanusiaan itu sendiri,” ujarnya.

Di Timur Tengah, tanah yang sejak lama dipenuhi luka kini kembali berdarah. Infrastruktur hancur, sumber air terancam, dan jutaan orang berpotensi terusir dari tanah kelahirannya. Dunia seakan menyaksikan, namun tak mampu menghentikan.

“Ke mana dunia? Ke mana suara keadilan?” tanya Prof. Sutan, lirih.
Di tengah semua itu, ia berharap Indonesia tidak hanya menjadi penonton. Ia menyerukan agar bangsa ini bersiap—bukan dengan ketakutan, tetapi dengan kemandirian.

“Kita harus menjaga rakyat kita. Pangan, energi, obat-obatan… semua harus kita siapkan sendiri. Jangan sampai rakyat Indonesia ikut menangis karena krisis yang sebenarnya bisa kita hadapi,” tegasnya.

Lebih dari itu, ia juga menitipkan harapan agar Indonesia tetap berdiri di garis kemanusiaan, memperjuangkan perdamaian dan keadilan bagi Palestina, sebagaimana amanat konstitusi.
Di akhir pernyataannya, satu kalimat menggantung di udara—sebuah pertanyaan yang terasa sederhana, namun berat untuk dijawab:

“Jika dunia benar-benar dilanda krisis… apakah kita sudah siap, atau justru akan ikut tenggelam di dalamnya?”

Editor:indra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *