Deli Serdang — Di balik riuh yang segera pecah dari tribun, ada sunyi yang bekerja dalam diam. Jelang laga panas PSMS kontra PSPS, Tim Jibom dan KBR Detasemen Gegana Satuan Brimob Polda Sumatera Utara bergerak tanpa sorotan, menyisir setiap sudut Stadion Utama Sumatera Utara, Sabtu (28/3/2026).
Langkah mereka dimulai dari Mako, menuju stadion dengan satu misi: memastikan tak ada ancaman sekecil apa pun yang bersembunyi di balik gemuruh sepak bola. Setibanya pukul 16.00 WIB, koordinasi dilakukan cepat—lalu dimulailah pekerjaan sunyi yang menentukan segalanya.
Satu per satu titik diperiksa. Lapangan yang akan menjadi panggung adu gengsi, tribun yang akan dipenuhi harap dan sorak, ruang ganti tempat strategi disusun, hingga lorong-lorong sempit yang tak terlihat mata penonton. Tak ada yang luput. Tak ada ruang bagi kelengahan.
Dipimpin AKP David Eka Putra, S.H., bersama 10 personel terlatih, setiap langkah diiringi kewaspadaan tinggi. Alat deteksi disiapkan, insting diasah. Mereka tak sekadar mencari—mereka memastikan keselamatan ribuan jiwa yang kelak memenuhi stadion itu.
“Ini bukan sekadar prosedur. Ini tentang memastikan semua orang pulang dengan selamat,” ujar AKP David, dengan nada tegas yang menyimpan tanggung jawab besar.
Ancaman mungkin tak terlihat, namun bagi tim Gegana, setiap sudut menyimpan kemungkinan. Karena itu mereka hadir—sebelum sorak sorai dimulai, sebelum peluit pertama ditiup, sebelum emosi membuncah.
Kehadiran mereka mungkin tak disadari banyak orang. Namun dari kerja senyap itulah rasa aman lahir.
Dan saat nanti stadion bergemuruh oleh teriakan suporter, tak ada yang tahu—bahwa di balik euforia itu, ada perjuangan sunyi yang telah memastikan semuanya tetap utuh, tetap aman, tetap hidup.
Indra/humas

