Medan ~ Langit sore itu seakan ikut muram ketika kabar memilukan datang dari bawah Jembatan Titi Bambu. Sekitar pukul 14.30 WIB, suasana yang semula biasa berubah menjadi kepanikan dan tangis. Seorang bocah sekolah, yang seharusnya tengah menikmati masa remajanya, justru harus berjuang melawan derasnya arus air yang tak kenal ampun.
Ia adalah Zevanray Huang, pelajar kelas VII A SMP Yos Sudarso, anak yang dikenal masih penuh mimpi dan harapan. Tinggal di Jalan Ketaren Raya No. 18, Dusun IV Helvetia Sunggal, Kabupaten Deli Serdang, kini namanya menggema di antara doa-doa yang dipanjatkan dengan harap dan cemas.
Detik-detik mencekam itu begitu cepat berlalu. Arus di bawah jembatan yang selama ini tampak biasa, mendadak berubah menjadi ganas. Warga sekitar yang menyaksikan hanya bisa berteriak, sebagian berusaha menolong, namun derasnya air seakan menelan segalanya—tanpa memberi kesempatan.
Ironisnya, lokasi tersebut bukanlah tempat asing bagi peringatan. Larangan telah berkali-kali disampaikan oleh warga setempat. Imbauan demi imbauan sudah digaungkan agar tidak beraktivitas di area berbahaya itu. Namun, takdir seolah berkata lain—peringatan yang ada tak mampu membendung tragedi yang terjadi.
Tangis pecah di sekitar lokasi. Wajah-wajah cemas dipenuhi harap yang kian menipis seiring waktu. Setiap detik terasa begitu panjang, setiap pencarian menjadi perjuangan antara harapan dan kenyataan pahit.
Peristiwa ini bukan sekadar kabar duka, tetapi juga tamparan keras bagi kita semua. Bahwa kelalaian sekecil apa pun bisa berujung pada kehilangan yang tak tergantikan. Bahwa pengawasan, kepedulian, dan kesadaran akan bahaya adalah benteng terakhir yang harus dijaga.
Kini, hanya doa yang terus mengalir, menyatu dengan derasnya arus sungai yang belum juga mengembalikan sosok kecil itu. Sebuah harapan yang tersisa—agar keajaiban datang, meski dalam sunyi yang menyayat hati.
Tim
Editor:indra

