TAPANULI SELATAN – Senja perlahan turun di Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Minggu sore (22/02/2026). Langit berwarna jingga, angin berembus pelan, dan sebagian warga bersiap menyambut waktu berbuka puasa. Namun di balik keheningan itu, ada perjuangan yang terus berjalan—perjuangan untuk bangkit dari luka bencana.
Di antara rangka bangunan dan tanah yang masih menyimpan bekas kepedihan, personel Batalyon C Satuan Brimob Polda Sumatera Utara hadir. Bukan hanya membawa seragam dan perlengkapan tugas, tetapi juga membawa empati yang tulus.
Dalam rangka BKO Operasi Aman Nusa II, kegiatan dipimpin oleh Danton Penugasan IPDA Leonardo Marbun. Sejak pukul 14.00 WIB, mereka bergerak dari Posko Brimob Hapesong Lama Desa Simatuhir menuju Hapesong Baru di areal PTPN IV, serta Desa Garoga dan Desa Aek Ngadol. Langkah mereka mungkin terdengar biasa, namun maknanya begitu dalam bagi warga yang sedang berjuang memulai kembali.
Dapur Lapangan: Hangat di Tengah Luka
Di Desa Aek Ngadol, dapur lapangan berdiri sederhana. Asap tipis mengepul dari tungku, menyatu dengan warna senja. Tangan-tangan berseragam itu memotong, mengaduk, dan menata hidangan berbuka puasa untuk masyarakat.
Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya makanan. Namun bagi warga terdampak, itu adalah rasa diperhatikan. Di tengah rumah yang belum berdiri sempurna dan masa depan yang masih diraba-raba, kehadiran Brimob menjadi penguat bahwa mereka tidak sendiri.
Mengawal Rumah, Menjaga Asa
Di lokasi pembangunan hunian tetap (Huntap) Hapesong Baru, 112 kopel atau 227 pintu rumah tengah dibangun di atas lahan sekitar 5 hektare. Progresnya telah mencapai kurang lebih 51 persen. Setiap bata yang tersusun bukan sekadar material, melainkan harapan baru bagi keluarga yang ingin kembali merasakan hangatnya rumah sendiri.
Personel Brimob berjaga tanpa lelah, memastikan seluruh proses berjalan aman dan tertib. Mereka tahu, rumah-rumah itu bukan hanya bangunan, tetapi simbol kebangkitan.
Sementara di Huntara Hapesong Lama Desa Simatuhir, 29 kopel atau 145 pintu hunian sementara terus menunjukkan perkembangan. Beberapa unit komunal telah selesai, sementara lainnya masih dalam tahap pemasangan rangka, atap, pintu, dan jendela. Lingkungan sekitar posko dibersihkan dan ditata rapi—sebuah gambaran bahwa dari keteraturan kecil, lahir ketenangan besar.
Seragam yang Menguatkan
Di tengah pemulihan yang belum sepenuhnya usai, Brimob berdiri bukan hanya sebagai penjaga stabilitas, tetapi sebagai penguat semangat. Mereka hadir saat senja turun, saat rasa lelah mulai terasa, dan saat harapan kadang goyah.
Semua rangkaian kegiatan berjalan aman, lancar, dan kondusif. Personel dan peralatan dalam kondisi baik, siap melanjutkan tugas esok hari.
Di Batang Toru, di antara rangka rumah dan doa-doa yang dipanjatkan menjelang berbuka, satu hal menjadi nyata: negara tidak pergi. Di balik seragam itu, ada hati yang ikut merasakan. Dan di tengah luka yang perlahan sembuh, harapan kembali tumbuh—pelan, tapi pasti.
Humas/indra

