Belawan, 14 April 2026 — Langkah-langkah yang semula penuh harap di Terminal Penumpang Bandar Deli, Pelabuhan Belawan, berubah menjadi isak tangis. Di tengah keramaian calon penumpang yang hendak berangkat, seorang ibu, Roslina Sibarani (63), justru menutup perjalanan hidupnya—bahkan sebelum sempat menaiki KM Kelud yang telah dinantikannya.
Siang itu, Roslina tiba-tiba terkulai tak sadarkan diri. Keluarga yang mendampingi langsung panik, memeluk dan memanggil namanya berulang kali, berharap ia membuka mata. Dengan bantuan porter, tubuhnya yang lemah segera dipindahkan ke tempat yang lebih aman, diiringi doa dan harapan yang kian menipis.
Namun waktu berjalan begitu cepat. Petugas Karantina Kesehatan Pelabuhan (KKP) yang datang melakukan pemeriksaan pada pukul 12.14 WIB akhirnya menyatakan bahwa Roslina telah tiada. Seketika, suasana terminal yang riuh berubah sunyi—hanya terdengar tangis keluarga yang pecah, tak kuasa menerima kenyataan pahit tersebut.
Jenazah almarhumah kemudian dibawa ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut. Di sudut pelabuhan, duka itu terasa nyata—menyisakan luka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan, dan menjadi saksi bisu betapa rapuhnya rencana manusia di hadapan takdir.
Pihak Pelindo Regional 1 Belawan pun menyampaikan belasungkawa mendalam. Executive General Manager, Yusrizal, memastikan bahwa seluruh petugas telah berupaya maksimal memberikan pertolongan secepat mungkin sesuai prosedur.
“Kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Petugas telah bergerak cepat memberikan bantuan,” ujarnya lirih.
Meski pelayanan di terminal tetap berjalan, duka itu seakan menggantung di udara. Kepergian Roslina menjadi pengingat yang menyayat hati—bahwa tidak semua perjalanan berakhir di tujuan. Ada yang justru berhenti di titik yang tak pernah direncanakan.
Indra/humas

