Oleh: Dwi Hartoyo
Rabu, 24 Desember 2025
Lampung — Tidak terasa, kita telah berada di penghujung tahun 2025. Sebentar lagi, satu tahun penuh akan benar-benar menjadi kenangan tersimpan sebagai catatan waktu yang tak mungkin terulang kembali.
Tahun ini bukan sekadar deretan tanggal dari Januari hingga Desember. Ia adalah perjalanan panjang tentang perjuangan, tentang jatuh dan bangun, tentang luka yang tak selalu terlihat, serta doa-doa yang diam-diam kita panjatkan di saat paling sunyi.
Ada perjuangan yang tak pernah berhenti,
ada proses belajar yang kadang menyakitkan, dan ada begitu banyak persoalan yang menguji kesabaran serta keikhlasan.
Namun justru dari situlah kita belajar tentang arti hidup yang sesungguhnya.
Hari ini, di ambang pergantian tahun, saya ingin mengajak kita semua untuk sejenak berhenti. Berhenti dari hiruk-pikuk ambisi dunia, menoleh ke belakang, dan bertanya dengan jujur pada diri sendiri: sudah sejauh mana hidup ini kita maknai?
Di tengah sibuknya mengejar dunia jabatan, harta, pengakuan sering kali kita lupa satu hal paling mendasar: hidup bukan hanya tentang apa yang kita miliki, tetapi tentang apa yang bisa kita berikan.
Selagi masih diberi napas, selagi langkah ini masih mampu berjalan, membantu sesama bukanlah pilihan, melainkan panggilan nurani. Sebab nilai hidup manusia akan lebih terasa bukan saat ia dipuji, tetapi ketika kehadirannya mampu meringankan beban orang lain hingga tuntas, tanpa pamrih.
Kebaikan tidak harus besar untuk bermakna.
Langkah kecil, uluran tangan sederhana, dan keikhlasan yang tulus sering kali jauh lebih berarti dibandingkan seribu janji tanpa tindakan.
Tahun 2025 telah mengajarkan satu hal penting: hidup ini rapuh, waktu berjalan cepat, dan kesempatan berbuat baik tidak selalu datang dua kali. Maka jangan menunda untuk peduli, jangan menunggu berlebih untuk berbagi.
Kini, kita bersiap melangkah ke tahun 2026.
Bukan dengan kesombongan atas pencapaian, melainkan dengan kerendahan hati atas kekurangan. Bukan dengan dendam masa lalu, melainkan dengan niat memperbaiki diri.
Pertanyaannya sederhana, namun sangat mendalam: di tengah sibuknya mengejar dunia, sudahkah kita menyiapkan bekal untuk akhirat juga?
Semoga tahun depan bukan hanya tentang hidup lebih lama, tetapi tentang hidup yang lebih bermakna. Tentang menjadi manusia yang keberadaannya dirindukan karena manfaatnya, bukan dikenang karena jabatannya.
Karena pada akhirnya, yang akan ditanya bukan seberapa tinggi kita berdiri, melainkan seberapa banyak orang yang pernah kita bantu untuk bangkit.


