SERGAI — Malam itu belum sepenuhnya larut ketika ketakutan datang tanpa diundang. Di jalanan sepi Dusun V Desa Pematang Guntung, seorang warga, Andi Lubis (37), hanya ingin pulang ke rumah. Namun takdir berkata lain—perjalanan singkat itu berubah menjadi mimpi buruk yang meninggalkan luka, bukan hanya di tubuh, tapi juga di hati.
Sekira pukul 19.15 WIB, Andi melaju dengan sepeda motornya, berharap segera tiba di rumah. Tapi dari gelapnya jalan, dua sosok tak dikenal muncul. Dengan wajah tertutup masker, mereka mendekat, memotong laju, lalu merenggut paksa tas yang dibawanya.
Tak ada pilihan. Andi bertahan.
Tarik-menarik terjadi. Dalam detik-detik yang terasa begitu panjang, tali tas itu akhirnya putus. Para pelaku sempat menguasainya. Namun keadaan berbalik—motor yang mereka tumpangi oleng, lalu terjatuh.
Di tengah rasa takut, Andi mengumpulkan keberanian. Ia mendekat, merebut kembali miliknya. Tapi keberanian itu harus dibayar mahal.
Sebilah senjata tajam diayunkan ke arahnya. Dua kali. Mengarah ke kepala. Dengan refleks, ia menangkis. Luka pun tak terelakkan—sayatan di tangan kanan dan pinggul menjadi saksi betapa dekatnya ia dengan bahaya malam itu.
“Cepat… cepat…!” teriak salah satu pelaku, sebelum akhirnya mereka melarikan diri, meninggalkan Andi dalam luka dan sisa ketakutan di jalan yang sunyi.
Di balik peristiwa itu, respons cepat kepolisian menjadi secercah harapan. Personel Polsek Teluk Mengkudu dan Satreskrim Polres Sergai segera turun ke lokasi, memastikan kondisi korban, dan memulai langkah penyelidikan.
Kasi Humas Polres Sergai, AKP Bringin Jaya, menyampaikan bahwa pihaknya langsung bergerak sejak informasi diterima.
“Korban saat itu belum sempat membuat laporan karena masih dalam kondisi pemulihan. Namun personel sudah turun ke lapangan untuk menindaklanjuti kejadian ini,” ujarnya.
Keesokan harinya, dengan sisa luka yang masih terasa, Andi akhirnya memberanikan diri membuat laporan resmi. Sebuah langkah kecil, namun penting—bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga agar kejadian serupa tak kembali menghantui orang lain.
Kini, harapan bertumpu pada upaya kepolisian untuk mengungkap pelaku. Sementara bagi Andi, malam itu mungkin telah berlalu, tetapi jejaknya akan terus membekas—sebagai pengingat bahwa di balik perjalanan pulang yang sederhana, kadang tersimpan ujian yang tak pernah diduga
Indra/humas


