Harga Berbagai Komoditas Naik, Daya Beli Masyarakat dan Usaha Terdampak

Oplus_16908288

JAKARTA – Per 22 April 2026 – Data resmi BPS menunjukkan tekanan inflasi berasal dari lonjakan harga energi, pangan, hingga bahan baku industri. Sejumlah komoditas di pasar dalam negeri tercatat mengalami kenaikan harga signifikan dalam sebulan terakhir, per 22 April 2026. Lonjakan ini terjadi di hampir semua sektor kebutuhan, mulai dari energi, bahan pangan pokok, hingga bahan baku industri. Dampaknya sudah mulai terasa: daya beli masyarakat menurun, biaya operasional usaha membengkak, dan tekanan terhadap perekonomian nasional kian terukur dalam data statistik.

Berdasarkan rilis resmi Badan Pusat Statistik (BPS) per 1 April 2026, Indeks Harga Konsumen (IHK) Maret 2026 mengalami inflasi tahunan (year-on-year) sebesar 3,48%, sedikit melambat dibandingkan posisi Februari yang mencapai 4,76% tetapi masih berada di rentang target pemerintah. Secara bulanan (month-to-month), inflasi tercatat sebesar 0,41%, dengan indeks harga konsumen bergerak dari 110,57 menjadi 110,95 poin.

Apa Saja yang Naik Harga?

Data BPS merinci bahwa tekanan harga terbesar berasal dari tiga kelompok utama:

Kelompok yang Diatur Pemerintah (Administered Prices), Mengalami inflasi tertinggi sebesar 6,08% (yoy) dengan andil 1,14% terhadap total inflasi. Penyebab utamanya adalah penyesuaian tarif listrik untuk pelanggan bisnis dan industri yang naik rata-rata 7%, disusul kenaikan harga BBM non-subsidi (RON 90, 92, 98 naik 30–40%) serta solar industri yang naik 25% seiring meroketnya harga minyak dunia di level USD 85–90 per barel. Harga LPG non-subsidi tabung 12 kg juga tercatat naik Rp50.000–Rp60.000 per unit atau sekitar 18%.

Kelompok Pangan Bergejolak (Volatile Foods)

Mengalami inflasi sebesar 4,24% (yoy) dengan andil 0,72%. Komoditas pendorongnya antara lain:

– Minyak goreng: Rata-rata nasional naik dari Rp19.358 menjadi Rp19.592 per liter, dengan kenaikan terjadi di 207 kabupaten/kota akibat penguatan harga CPO global

– Daging ayam ras: Naik menjadi Rp42.157 per kg (+2,75%) dipicu mahalnya harga jagung pakan di atas Rp6.000 per kg

– Cabai rawit: Tembus Rp71.259 per kg dan bawang merah di atas Rp40.000 per kg di sebagian besar pasar, dampak gangguan cuaca dan masa transisi musim

– Daging sapi: Naik menyusul penyesuaian Harga Acuan Pembelian dari Rp58.000 menjadi Rp59.000 per kg di tingkat peternak

Kelompok Inti
Tercatat inflasi 2,52% (yoy) dengan andil 1,62%, dipengaruhi kenaikan harga emas perhiasan (Antam naik Rp40.000 per gram), sewa tempat tinggal, serta harga bahan baku industri seperti plastik dan kemasan yang melonjak 15–20% akibat tekanan nilai tukar rupiah dan ketergantungan impor.

Dampak yang Terasa di Lapangan

Kenaikan harga yang terjadi secara serentak ini memicu efek domino yang dirasakan oleh seluruh elemen ekonomi.

DATA RESMI BPS
Berdasarkan rincian rilis resmi BPS, tekanan inflasi sebesar 3,48% pada Maret 2026 didominasi oleh kenaikan harga pada kelompok yang diatur pemerintah yang memberikan kontribusi sebesar 1,14% terhadap angka inflasi total. Selanjutnya, kelompok inflasi inti menjadi penyumbang terbesar kedua dengan andil 1,62%, diikuti oleh kelompok pangan bergejolak yang memberikan kontribusi sebesar 0,72%. Angka ini masih berada dalam target inflasi pemerintah tahun 2026 yang ditetapkan di kisaran 1,5% hingga 3,5%, namun pemerintah mewaspadai potensi kenaikan lebih lanjut jika tekanan harga di pasar terus berlanjut.

Kelompok masyarakat berpenghasilan rendah menjadi pihak yang paling terdampak. Berdasarkan analisis BPS, 40% rumah tangga terbawah mengalokasikan lebih dari 60% pendapatannya untuk kebutuhan pokok. Kenaikan harga memaksa banyak rumah tangga mengubah pola belanja: mengurangi frekuensi membeli barang tertentu atau beralih ke produk dengan harga lebih murah.

“Sekarang belanja di pasar harus lebih hati-hati. Dulu Rp100 ribu cukup buat belanja lauk dan bumbu seminggu, sekarang cuma cukup untuk 3–4 hari saja,” ujar Siti, ibu rumah tangga di Pasar Senen, Jakarta Pusat.

Di sisi pelaku usaha, terutama UMKM, kenaikan bahan baku dan operasional menekan margin keuntungan hingga 20%. Pemilik warung makan dan industri pengolahan mengaku harus mengambil langkah sulit: menaikkan harga jual, memangkas biaya operasional, atau mengurangi jam kerja karyawan.

“Kalau harga jual dinaikkan terlalu tinggi, pelanggan bisa lari. Tapi kalau tidak dinaikkan, kami malah merugi. Ini jadi dilema besar buat kami,” kata Budi, pengusaha kuliner di Depok.

Tekanan ini diperkirakan menekan laju pertumbuhan ekonomi. Sejumlah lembaga riset menurunkan proyeksi menjadi 4,8–5,1%, sedikit di bawah target pemerintah 5,2%. Hal ini dipicu melemahnya konsumsi rumah tangga dan investasi akibat ketidakpastian harga, serta tingginya kebutuhan impor yang memberi tekanan pada nilai tukar rupiah.

Langkah Penanganan

Merespons data dan kondisi lapangan, pemerintah menegaskan terus melakukan intervensi. Menko Pangan Zulkifli Hasan menyatakan penyesuaian harga saat ini masih di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET). Langkah yang diambil antara lain memperluas operasi pasar, menambah pasokan impor strategis, serta menyalurkan bantuan sosial dan subsidi energi tepat sasaran.

Komisi VI DPR meminta evaluasi kebijakan subsidi agar lebih efektif, serta mendorong peningkatan produktivitas pertanian dan peternakan untuk mengurangi ketergantungan impor. Pengamat ekonomi Badiul Hadi dari FITRA menekankan bahwa stabilitas harga membutuhkan perbaikan sistem logistik dan rantai pasok secara menyeluruh.

“Data BPS menunjukkan tekanan harga berulang terjadi pada sektor yang bergantung pada pasokan lokal dan impor. Solusi jangka pendek lewat operasi pasar, tapi kuncinya ada pada peningkatan produksi dan efisiensi distribusi,” ujarnya.

Hingga berita ini diturunkan, BPS terus memantau perkembangan harga harian di 900 pasar dan 82 kota, sementara pemerintah berkomitmen mengambil langkah tambahan jika diperlukan untuk melindungi daya beli masyarakat. (DN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *