OPINI – Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan Raden Ajeng Kartini, pelopor emansipasi wanita yang hidup pada abad ke-19. Melalui surat-suratnya yang tersebar ke mancanegara, Kartini menyuarakan hak perempuan untuk mengakses pendidikan, bebas berpendapat, dan menentukan arah hidupnya sebuah pemikiran yang dianggap revolusioner pada masanya.
Lebih dari satu abad berselang, cita-cita yang diperjuangkannya telah menunjukkan kemajuan signifikan. Data dari Badan Pusat Statistik (2025) mencatat bahwa angka partisipasi sekolah perempuan di tingkat SMA dan perguruan tinggi telah menyamai bahkan melebihi laki-laki. Perempuan juga telah menduduki berbagai posisi strategis, mulai dari anggota legislatif, pemimpin daerah, hingga direktur perusahaan nasional dan multinasional. Di sektor usaha, kontribusi perempuan mencapai 38 persen dari total pelaku usaha di Indonesia.
Meski demikian, berbagai tantangan masih menjadi catatan penting. Berdasarkan laporan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), hingga saat ini masih terdapat kesenjangan upah antara pekerja laki-laki dan perempuan, serta keterbatasan akses sumber daya ekonomi di daerah-daerah terpencil. Selain itu, kasus kekerasan berbasis gender masih menjadi masalah yang memerlukan penanganan serius dari seluruh elemen bangsa.
Di momen peringatan ini, harapan akan kemajuan perempuan Indonesia terangkum dalam sejumlah poin yang disepakati berbagai elemen masyarakat, organisasi perempuan, dan pemerintah:
Harapan yang Dijiwai Nilai Keadilan dan Kesetaraan
Pertama, terwujudnya kesempatan yang setara tanpa diskriminasi. Harapannya, penilaian terhadap kemampuan individu didasarkan pada kompetensi dan kualifikasi, bukan jenis kelamin. Hal ini berlaku di lingkungan pendidikan, dunia kerja, hingga ruang pengambilan keputusan publik.
Kedua, terjaminnya keamanan dan perlindungan hak asasi. Seperti Kartini yang berjuang membebaskan perempuan dari belenggu tradisi yang tidak adil, saat ini perjuangan tersebut diteruskan untuk memastikan setiap perempuan terbebas dari segala bentuk kekerasan, pelecehan, dan perlakuan merendahkan martabat. Lingkungan yang aman di rumah, sekolah, tempat kerja, dan ruang publik menjadi syarat utama bagi perempuan untuk berkembang secara maksimal.
Ketiga, terjalinnya solidaritas yang inklusif. Kemajuan perempuan tidak dimaknai sebagai persaingan antar-gender, melainkan kerja sama yang saling menguatkan. Perempuan yang telah mencapai keberhasilan diharapkan dapat menjadi pendamping dan fasilitator bagi perempuan lain, khususnya mereka yang tinggal di daerah terpencil, dari kelompok ekonomi lemah, atau yang menghadapi keterbatasan akses informasi.
Semangat yang Relevan Sepanjang Zaman
Komisioner Komnas Perempuan periode 2020–2025, Siti Aminah Tardi, menyatakan bahwa Hari Kartini bukan sekadar perayaan simbolis. “Ini adalah momen evaluasi dan refleksi bersama. Harapan kita adalah agar semangat perjuangan Kartini terus diterjemahkan dalam kebijakan publik yang inklusif dan tindakan nyata di tingkat masyarakat, sehingga setiap perempuan di seluruh wilayah Indonesia bisa mengembangkan potensinya tanpa hambatan,” ujarnya saat diwawancara, Senin (20/4).
Sementara itu, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat berbagai program pemberdayaan, perlindungan, dan peningkatan kualitas hidup perempuan. “Kemajuan perempuan adalah indikator utama kemajuan bangsa. Setiap langkah yang kita ambil untuk memenuhi harapan ini adalah wujud penghormatan terhadap warisan pemikiran dan perjuangan R.A. Kartini,” tulis Kemen PPPA dalam siaran pers resminya yang dirilis bertepatan dengan peringatan hari bersejarah tersebut.
Peringatan Hari Kartini tahun ini menjadi pengingat bahwa perjuangan untuk mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender adalah tanggung jawab bersama seluruh komponen bangsa. Harapan yang disusun hari ini diharapkan dapat menjadi pijakan untuk menciptakan masa depan di mana setiap perempuan Indonesia dapat hidup bermartabat, berdaya, dan berkontribusi optimal bagi keluarga, masyarakat, dan negara.
Oleh: Dina, SE MM
-Akademisi, Jurnalis, dan Pengamat Ekonomi

