ELAJAHPERKARA2 – OPINI – Oleh:Imanuel Karango untuk Benyamin Ana Ote: Saya menolak cara berpikir yang menjadikan iman sebagai alat untuk memutus akar budaya orang Sumba. Pelabelan Pasola sebagai praktik yang harus dijauhi atas nama kesalehan bukanlah ekspresi iman yang matang, melainkan gejala amnesia kultural yang dibungkus bahasa teologis.
Pasola tidak bisa dipahami secara dangkal. Ia adalah sistem kosmologis yang mengatur relasi simbolik antara manusia, tanah, waktu, dan kehidupan. Darah dalam Pasola bukan glorifikasi kekerasan, melainkan simbol keseimbangan dan keberlanjutan hidup dalam etika adat. Menolak Pasola tanpa memahami simbolnya adalah reduksionisme budaya dan kemalasan intelektual.
Orang Sumba tidak pernah hidup tanpa nilai sebelum agama formal hadir. Adat dan praktik leluhur telah lama menjadi fondasi etika sosial, moralitas, dan batas hidup bersama. Karena itu, iman yang sehat seharusnya berdialog dengan adat, bukan hadir sebagai alat delegitimasi identitas kultural.
Pendidikan semestinya membuat orang Sumba semakin berakar, bukan tercerabut. Orang Sumba yang hidup dengan adat dan adab, lalu berpendidikan, justru memikul tanggung jawab moral untuk menjadi pelestari kebudayaan, bukan menjadi penghapus warisan leluhur atas nama kesalehan.
Saya lahir dan bertumbuh dalam keluarga Kristen Protestan Gereja Kristen Sumba aliran Lutheran, dan juga beribadah serta bertumbuh iman dalam ruang gereja Kharismatik dan Calvinis. Ayah saya berasal dari suku Lamete, ibu dari suku Keretana. Dari rahim iman dan adat itulah saya belajar bahwa iman tidak pernah menuntut kita melupakan asal usul.
Jika iman hanya bisa ditegakkan dengan menegasikan adat, maka persoalannya bukan pada Pasola, melainkan pada cara berpikir yang miskin konteks dan sejarah. Yang ilahi tidak membutuhkan penghapusan budaya untuk dimuliakan.
Iman tanpa akar bukan kesalehan. Ia hanya kesombongan yang kehilangan ingatan.**IK


