JELAJAHPERKARA- OPINI PUBLIK – Polemik terkait larangan mengikuti tradisi Pasola yang dikeluarkan oleh panitia pemegang kerajaan di Sumba menuai beragam tanggapan dari masyarakat. Salah satu tanggapan datang dari Martinus Jaha Bara, S.Ap., Cps., tokoh muda Sumba sekaligus pemerhati sosial dan budaya, yang menilai bahwa larangan tersebut perlu dikaji secara bijak dan tidak tergesa-gesa.
Menurut Martinus Jaha Bara, Pasola merupakan warisan budaya leluhur Sumba yang sarat dengan nilai historis, spiritual, dan kebersamaan masyarakat. Ia menegaskan bahwa iman dan budaya sejatinya tidak saling bertentangan, melainkan dapat berjalan berdampingan apabila dimaknai secara benar.
“Budaya adalah identitas, iman adalah keyakinan. Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Pasola bukan sekadar atraksi, tetapi simbol persatuan, pengorbanan, dan penghormatan kepada leluhur,” ujar Martinus.
Ia menilai bahwa kekhawatiran terhadap Pasola seharusnya disikapi melalui dialog terbuka antara tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat, bukan melalui larangan sepihak yang berpotensi menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat Sumba.
Martinus juga menekankan pentingnya pelestarian budaya lokal sebagai jati diri generasi muda. Menurutnya, jika budaya terus dibatasi tanpa pendekatan edukatif, maka lambat laun identitas lokal bisa terkikis oleh arus modernisasi.
“Iman mengajarkan kebaikan, budaya mengajarkan jati diri. Ketika keduanya dipahami dengan benar, justru akan saling menguatkan, bukan saling meniadakan,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Martinus Jaha Bara mengajak seluruh pihak untuk mengedepankan musyawarah dan saling menghormati perbedaan pandangan. Ia berharap Pasola tetap dapat dilestarikan sebagai warisan budaya Sumba, dengan tetap mengedepankan nilai kemanusiaan, keselamatan, dan persatuan masyarakat.


