Martinus Jaha Bara, S.Ap., Cps., Direktur Utama PT. Portal Sumba Sabana (PSS) Sabagai Aktivis Muda: Menanggapi Polemik Penghinaan terhadap Bunda Maria serta Penolakan Umat Kristen dalam Kegiatan Pasola, Budaya dan Agama Mana yang Lahir Lebih Dulu?

JELAJAHPERKARA2 – SUMBA BARAT DAYA – Maraknya polemik yang berkembang di tengah masyarakat terkait pernyataan yang dinilai menghina Bunda Maria serta penolakan terhadap umat Kristen untuk berpartisipasi dalam kegiatan adat Pasola menuai tanggapan serius dari berbagai kalangan. Salah satunya datang dari Martinus Jaha Bara, S.Ap., Cps., Direktur Utama PT. Portal Sumba Sabana (PSS) sekaligus aktivis muda asal Sumba.

Dalam pernyataannya kepada media, Martinus menegaskan bahwa polemik tersebut berpotensi memecah persaudaraan masyarakat Sumba yang selama ini dikenal menjunjung tinggi nilai toleransi, kebersamaan, dan kearifan lokal.

Penghinaan terhadap Simbol Iman Dinilai Melukai Persaudaraan

Martinus menyayangkan adanya pernyataan yang mengarah pada penghinaan terhadap Bunda Maria, yang merupakan figur suci dan sangat dihormati oleh umat Katolik dan Kristen di seluruh dunia.

“Bunda Maria bukan Tuhan dan tidak disembah, tetapi dihormati sebagai teladan iman, ketaatan, dan kerendahan hati. Menghina simbol iman sama artinya melukai perasaan jutaan umat beragama dan merusak harmoni sosial,” tegas Martinus.

Ia menilai bahwa perbedaan keyakinan seharusnya tidak dijadikan dasar untuk saling menyerang, apalagi dalam ruang publik yang dapat memicu konflik horizontal.

Pasola sebagai Budaya, Bukan Alat Eksklusivitas Agama

Terkait penolakan umat Kristen untuk berpartisipasi dalam kegiatan Pasola, Martinus menegaskan bahwa Pasola adalah budaya dan warisan leluhur masyarakat Sumba, bukan ritual agama tertentu yang bersifat eksklusif.

“Pasola adalah tradisi adat yang lahir dari budaya Marapu, jauh sebelum agama-agama modern masuk ke Sumba. Namun seiring perkembangan zaman, Pasola telah menjadi identitas budaya bersama, bukan milik satu kelompok agama saja,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa sejak dahulu masyarakat Sumba hidup berdampingan meski berbeda keyakinan, dan Pasola justru menjadi ruang pemersatu, bukan pemisah.

Budaya dan Agama, Mana yang Lahir Lebih Dulu?

Menjawab pertanyaan yang sering muncul di tengah polemik ini, Martinus menjelaskan secara historis bahwa budaya lahir lebih dahulu daripada agama-agama besar.

“Budaya adalah cara hidup masyarakat yang terbentuk dari nilai, kebiasaan, dan kearifan lokal. Agama kemudian hadir untuk menuntun manusia secara spiritual. Di Sumba, budaya Marapu sudah ada jauh sebelum Kristen dan Katolik masuk,” ujarnya.

Namun demikian, ia menekankan bahwa kehadiran agama tidak menghapus budaya, melainkan dapat berjalan berdampingan selama nilai-nilai kemanusiaan, perdamaian, dan saling menghormati tetap dijunjung tinggi.

Ajakan Menjaga Persatuan dan Toleransi

Sebagai aktivis muda, Martinus mengajak seluruh tokoh agama, tokoh adat, dan masyarakat untuk menahan diri serta membuka ruang dialog yang sehat.

“Sumba tidak dibangun oleh satu agama atau satu kelompok saja. Sumba dibangun oleh kebersamaan. Jangan jadikan Pasola dan simbol iman sebagai alat perpecahan,” pungkasnya.

Ia berharap pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan dapat berperan aktif meredam polemik ini agar tidak berkembang menjadi konflik sosial yang lebih luas, serta memastikan bahwa nilai toleransi tetap menjadi fondasi kehidupan masyarakat Sumba

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *