JELAJAHPERKARA – SUMBA BARAT DAYA – Statment seorang pendeta yang melarang umat Kristen untuk ikut serta dalam tradisi adat Pasola menuai perhatian dan tanggapan dari kalangan tokoh adat serta warganet di media sosial dan di Sumba, khususnya wilayah Kodi. Tanggapan tersebut disampaikan oleh Martinus Jaha Bara, dan di responi oleh salah satu tokoh adat pasola di sumba bagian Kodi, yaitu: Agus Mone.
Dalam keterangannya, Martinus Jaha Bara menyampaikan bahwa Pasola merupakan tradisi adat yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Sumba dan menjadi bagian penting dari identitas budaya yang harus dijaga bersama. Ia menegaskan bahwa Pasola tidak dimaksudkan untuk bertentangan dengan ajaran agama apa pun.
“Pasola adalah warisan leluhur orang Sumba. Di dalamnya terkandung nilai persatuan, kebersamaan, dan penghormatan terhadap kehidupan. Adat dan agama selama ini berjalan berdampingan,” ujar Martinus Jaha Bara.
Sementara itu, tokoh adat Pasola dari Sumba Kodi, Agus Mone, menyampaikan sikap terbuka terhadap perbedaan pandangan tersebut. Menurutnya, larangan sepihak tanpa memahami makna adat dapat memicu kesalahpahaman di tengah masyarakat. Oleh karena itu, pihak adat berencana mengedepankan dialog dan musyawarah.
“Kami akan mengundang yang bersangkutan pada penentuan Pasola, agar bisa melihat dan memahami langsung nilai adat yang kami jaga selama ini,” ungkap Agus Mone dalam komentar di Facebook Martin J Bara.
Ia juga menyampaikan bahwa berdasarkan informasi sementara, rapat adat penentuan Pasola direncanakan akan dilaksanakan pada tanggal 21 atau 22 Januari 2026. Rapat tersebut akan melibatkan para rato, tokoh adat, dan unsur masyarakat guna menentukan waktu serta tata pelaksanaan Pasola sesuai ketentuan adat.
Baik Martinus Jaha Bara maupun Agus Mone berharap agar seluruh elemen masyarakat, termasuk tokoh agama, dapat saling menghormati dan menjaga toleransi. Mereka menekankan bahwa persatuan masyarakat Sumba harus tetap dijaga tanpa mengorbankan adat dan budaya yang telah diwariskan oleh leluhur.
“Dialog / Pendekatan adalah jalan terbaik. Jangan sampai perbedaan pandangan merusak persaudaraan yang selama ini terjalin dengan baik,” tutup Martinus Jaha Bara… ***MJB


